Jumat, 11 Mei 2012

Disebut Bangsa Dangdut, Banggakah?

Dangdut is the music of my country, begitulah pandangan masyarakat Indonesia selama ini. Ketika orang bertanya jenis musik apa yang paling disukai, pastilah menjawab dangdut. Walau mungkin ada yang mengatakan bahwa jenis musik ini kacangan, katro dan ndeso, toh saat music dangdut diputar, tak dirasa pinggul bergoyang sendiri. Irama dangdut memang dapat menghipnotis pendengar. Dalam alam bawah sadar, ia dapat memerintahkan seseorang untuk bergerak mengikuti iramanya. Dangdut memiliki daya pikat sendiri dihati masyarakat indonesia. Walaupun banyak jenis music di negeri ini, namun dangdut adalah music nomor satu. Tak khayal, di sebagian wilayah Indonesia, sebuah pesta tak lengkap jika tidak menghadirkan dangdut.
Dangdut merupakan sebuah fenomena, dari kalangan miskin sampai pejabat, anak kecil sampai tua, semua suka dengan jenis music ini. Sebagian ada orang sok barat, sok jazz, sok pop, dan anti dangdut mengatakan bahwa dangdut adalah music kaum pinggiran. Anggapan tersebut sangatlah keliru. Siapa yang tidak mengenal dangdut, irama yang khas bersumber dari dentuman gendang, kecrekan, gitar, seruling dipadukan dengan cengkokan khas vokalis, menjadikannya sebuah instrument yang sangat elok. Di warung, tempat karaoke, terminal, angkutan umum, pasar, sampai pada kampanye pemilu para pejabat, dangdut selalu terdengar. Mulai dangdut jenis melo, sampai yang koplo. Ada pendapat kawan yang mengatakan bahwa hanya orang yang tidak waras yang tidak menyukai dangdut. Bahkan bisa jadi, ia dianggap bukan orang Indonesia. Cukup ekstrem ya.
Fenomena dangdut memang sangat unik, hanya satu jenis music ini yang dapat menyatukan bangsa Indonesia. Dangdut muncul, tanpa embel-embel suku, ras dan golongan manapun. Ia dinamis, oleh karena itu dangdut disebut sebagai music khas dari Indonesia. Untuk mematenkan itu, belum lama ini, Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) mendaftarkan dangdut sebagai warisan budaya asli Indonesia ke UNESCO, badan PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sebuah langkah kongkret yang patut kita apresiasi.
Namun timbul pertanyaan, benarkah bahwa musik dangdut itu adalah musik asli atau khas Indonesia?. Lono L Simatupang, seorang Antropolog dan pengamat musik di Indonesia mengatakan bahwa sebenarnya ada dua jenis musik yang bisa dikatakan khas Indonesia, yakni dangdut dan keroncong. Musik keroncong mulai dikenal oleh masyarakat saat ia dijadikan bagian dari sebuah film berjudul “Terang Bulan”. Dalam film tersebut, keroncong dinyanyikan dan dijadikan sebagai pembangkit nasionalisme bangsa.  Sementara dangdut, masih bernama Orkes Melayu waktu itu.
Dangdut Dulu Dan Sekarang
Kehadiran musik dangdut di Indonesia tidak terlepas dari jasa presiden pertama republik ini. Saat itu, Soekarno melarang segala pengaruh yang datangnya dari Barat, termasuk music. Larangan tersebut tak lain karena memang seperti yang kita kenal bahwa Soekarno merupakan orang yang anti Barat. Betapa antinya ia terhadap barat, sampai ia akan menggunduli kepala orang yang mendengarkan music Barat. Alasan itu diambil karena Soekarno khawatir akan perubahan sikap bangsa ini oleh budaya-budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
Disaat pemerintah melarang masuknya musik Barat, muncullah sebuah aliran musik di Indonesia yakni musik India. Aliran musik ini mulai familiar di telinga bangsa Indonesia sekitar tahun 1950-1951. Ditahun yang sama, diputarlah film India yang berjudul “Awara”, dengan lagu hits nya yang sangat terkenal waktu itu berjudul “Awara Hom”. Dari awara inilah pendengar music Indonesia kehilangan pegangan, karena masyarakat lebih menyukai musik India daripada musik keroncong dan juga musik melayu.
Karena tidak mau ketinggalan oleh kemajuan zaman, musik Indonesia pun terpengaruh oleh musik dari India ini. Terjadi percampuran genre musik. Maka lahirlah sebuah genre baru dalam music Indonesia, bernama dangdut. Nama dangdut sendiri diambil dari kata “dang dan dut, bunyi tabla yang dimainkan dalam music ini. Kelahiran dangdut diawali oleh sebuah lagu berjudul “Boneka Cantik Dari India” yang dinyanyikan oleh Ellya Khadam. Sejak saat itu, music dangdut mulai terkenal di negeri ini.
Sejak ditemukannya gitar elektrik pada tahun 1970-an, banyak aliran musik bermunculan, seperti Pop, Rock, Jazz dan lain sebagainya. Industri musik di Indonesia juga berlomba menerbitkan jenis-jenis musik baru. Posisi dangdut waktu itu benar-benar sulit. Adalah Soneta dengan Rhoma Irama yang sekarang dikenal dengan Raja Dangdut yang tetap memperjuangkan musik dangdut. Walau kadang ia juga mengikuti aliran Barat dalam musiknya, seperti Rock dikombinasikan dengan dangdut dalam lagu “Judi” misalnya. Hal itu semata dilakukan agar mereka tidak kehilangan penggemar.
Disaat situasi sulit, banyak kalangan menyatakan bahwa musik dalam negeri akan mati. Namun hal itu tidak terwujud terhadap dangdut. Musik ini tetap eksis sampai sekarang. Ia tidak pernah kehilangan ciri khas walaupun dikombinasikan dengan jenis music apapun. Bahkan musik dangdut dapat mengalahkan musik yang lain.
Seiring perubahan zaman, jenis musik juga berubah dan semakin beragam. Tidak ada lagi patokan yang dipegang dalam bermusik. Sekarang, musik tidak hanya terbatas pada satu jenis musik saja, seperti Rock, Pop, Dangdut, Jazz, dan lain sebagainya. Namun tidak jarang musisi yang mengkobinasikan antara beberapa genre musik, seperti kombinasi apik Rock dan dangdut yang lebih dikenal dengan aliran RockDut, atau Pop dengan Dangdut dengan sebutan PopDut nya. Karena akulturasi dan asimilasi inilah yang membawa musik dangdut masih tetap eksis sampai saat ini.
Musik dangdut di Indonesia kini lebih bervatiatif. Fenomena muculnya Inul adalah awal mula perubahan dangdut. Dengan goyang ngebornya, ia berhasil memberikan suntikan semangat bagi para pecinta dangdut untuk lebih berinovasi. Namun disayangkan, akibatnya dangdut sekarang kita nikmati tidak hanya menonjolkan keindahan syair dan musik merdu, namun lebih kepada penampilan di atas panggung. Diakui atau tidak, banyak sekali penyanyi dangdut kini yang hanya mengandalkan goyangan dan keseksian tubuhnya, walau suaranya sangat jauh dari kata merdu.
Goyangan erotis sang penyanyi cantik ditambah busana serba ketat, dan tubuh seksi menambah dangdut semakin “digemari”. Masyarakat kini lebih menggemari dangdut yang serba hot, sehingga muncullah berbagai pementasan dangdut yang menawarkan “kepuasan” penggemar dangdut negeri ini. Peraturan dalam berdangdut pun dirubah, dari suara yang berdu khas cengkokan indah, menjadi goyangan erotis dan “memukau”. Hal ini berbanding terbalik dengan para musisi dangdut dahulu. Mereka sangat sopan, dan juga suaranya sangat merdu. Sebut saja Evie Tamala, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan musisi lainya adalah contoh betapa jauh berbedanya dangdut dulu dan sekarang. Banyak penikmat dangdut masa lalu menganggap bahwa terjadi sebuah penodaan terhadap musik dangdut. Dangdut sekarang lebih terkesan seronoh, vulgar, tak beretika. Namun itulah music, sesuatu yang mengalir dan merupakan kebudayaan yang dinamis yang selalu berubah serta mengadaptasi terhadap ekspresi dan emosi manusia.
Dalam kondisi inilah seharusnya keresahan masyarakat muncul. Apakah dangdut sekarang masih pantas dinamakan sebagai music khas Indonesia?. Lalu dangdut yang seperti apa yang ingin diperjuangkan oleh masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya ke UNESCO?. Hal ini menjadi sangat sensitive, karena menghubungkan dangdut dengan Indonesia. Goyangan energik, erotis, syair berbau porno, semua itu muncul saat orang mendengar dangdut disebut saat ini. Tidak jarang setiap pentas dangdut, sering terjadi keributan bahkan tawuran antar kampung hanya karena senggolan saat jogged dangdut. Benar-benar bukan Indonesia. Lalu masih pantaskah dangdut disebut music of my country?.
Dalam sebuah artikel, sejarawan William H Frederick (1982) menyatakan bahwa dangdut bisa merepresentasikan ”prisma yang peka dan bermanfaat untuk melihat masyarakat Indonesia”. Masyarakat Indonesia yang dalam sebuah buku berjudul “Dangdut Stories” karya Andrew N Weintraub, disebut sebagai “bangsa dangdut” ini, dapat dilihat dari salah satu kecil budayanya, salah satunya dangdut. Meski terlalu subjektif dan sangat kurang pas jika melihat bangsa ini hanya dari satu jenis kebudayaan music dangdut saja, namun itu juga dapat mempengaruhi citra bangsa ini.
Bangsa Indonesia yang terkenal santun dan sopan digambarkan menjadi bangsa yang urakan karena musik dangdut sekarang yang lebih menonjolkan sisi erotisitasnya. Sampai-sampai  Emha Ainun Nadjib pada awal 2000-an menyatakan bahwa , ”Pantat Inul adalah wajah kita semua.” (lihat di http://www.goodreads.com/). Jika kita menganalisa pernyataan Cak Nun tersebut, masih banggakah kita mengatakan bahwa dangdut adalah music khas Indonesia? Banggakah kita berteriak kepada dunia bahwa dangdut is the music of my country?. Mari kita renungkan.  

0 komentar:

Poskan Komentar