Jangan Bercerai-Berai Karena Perbedaan

Perbedaan memang tidak mungkin tidak terjadi, selama manusia terus berfikir. Maka perbedaan tersebut dapat menjadi sebuah rahmat, apabila dengan perbedaan tersebut, akan menumbuhkan rasa saling hormat-menghormati dan menghargai. Namun perbedaan akan menjadi adzab, apabila dalam diri kita tertanam sebuah virus bernama fanatic sempit.

Pelajaran Dari Romo Carolus

Charles Patrick Edwards Burrows,OMI adalah nama kecil sang peraih penghargaan tersebut. Ia adalah seorang Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Setelah kedatangannya di Indonesia pada tahun 1973, ia tertarik untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di Kampung Laut Kabupaten Cilacap.

Rintihku

Aku menatap dalam lara Kembali menitikkan air mata Ia tak berdosa Namun aku tega menjatuhkannya Butir putih itu Menghujam deras menghancurkan hidupku Remuk sudah hati menatap cahya Mu Yang terang, namun dihatiku kau gelap Tertutup nafsuku, egoisku, dan dosaku.

Tapak-Tapak Suci, Sebuah Kisah Perjalanan Pemuda Desa

“ Bukalah surat ini ketika kau berada di antara dua pulau, saat kau terombang ambing di tengah lautan, dan saat itu kau akan merasakan betapa aku menyayangimu”..

La Tahzan, Saudaraku!

La Tahzan, Saudaraku. Kecelakaan yang menimpa saudara kita penumpang Shukoi Superjet 100 memang sangatlah tragis. Kita semua bersedih. Namun jangan kita terlarut dalam kesedihan. Yakin bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa telah merencanakan hal dibalik itu semua.

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Ironi Pecinan Semarang

Judul                     : Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota
Penulis                 : Tubagus P.Svarajati
Penerbit               : Suka Buku
Tahun Terbit         : Oktober 2012
Tebal Halaman    : 250 Halaman
Harga                   : -
Resentator          : Kenthip Pujakesuma

Berbicara tentang keindahan wisata budaya di Semarang, pasti akan berbicara tentang daerah Pecinan. Sebuah kawasan di Semarang ini, kerap dijadikan objek wisata para pelancong untuk menyaksikan keindahan serta keunikan budaya di sana.

Di kawasan Pecinan, kita dapat menikmati aneka jajanan khas penduduk Tionghoa pada tiga hari di akhir pekan. Selain itu di tahun baru Imlek, kawasan ini ramai dipadati pengunjung. Sebuah acara bernama Pasar Imlek Semawis di gelar. Dalam acara Pasar Imlek Semawis itu, akan ditontonkan beraneka ragam kesenian khas masyarakat Tionghoa, makanan khas, aneka kerajinan pecah belah, kaligrafi dan tari barongsai dan juga tari naga.

Namun, dari keramaian dan kemegahan itu, ada sebuah ironi yang bergelayut di sana. Keindahan dan kemegahan yang ditampilkan bukan untuk menunjukkan bahwa inilah kawasan Pecinan, kota dengan sejuta sejarah. Tubagus P.Svarajati, adalah sesosok yang berani menguak ironi demi ironi tentang permasalahan yang dihadapi Pecinan Semarang.

Melalui buku berjudul “Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor kota” ini, Tubagus P.Svarajati mencoba menguak persoalan yang dihadapi Pecinan Semarang dalam bahasa kolom yang indah. Dalam buku ini, Tubagus mencoba  untuk menggiring kita ke dalam sebuah permasalahan dengan cara pandang yang berbeda. Melihat dari hal-hal yang kecil yang tak tampak oleh mata, mengenai hal mikro dari permasalahan makro yang dihadapi oleh masyarakat Pecinan Semarang.

Banyak hal yang disoroti oleh Tubagus dalam buku ini. Mengenai pelaksanaan kampong semawis misalnya, Tubagus menilai bahwa bukan revitalisasi yang terjadi seperti yang digaungkan oleh pegiat kampong semawis, melainkan hanya sebuah klangenan. Mereka seakan bergiat, padahal tidak berinteraksi atau mengakar kepada kebutuhan masyarakat yang hendak dilayani.  Adanya  konsep turisme di wilayah Pecinan menurut Tubagus, seharusnya berdampak pada kehidupan social masyarakatnya, bukan malah menjadikan mereka sebagai penonton.

Menurut Tubagus, premis “memajukan atau menghidupkan” (revitalisasi?) lagi kawasan Pecinan tidak berguna manakala dalam praktik malah kontraproduktif. Oleh karena itu, Kopi Semawis wajib melakukan riset komprehensif atas wilayah Pecinan sebelum menggelembungkan ide “revitalisasi”. (hlm 77).

Sejak Reformasi 1998 bergulir, kawasan Pecinan dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata di Semarang. Namun Pecinan dirasa hanya dijadikan sebagai sumber komoditas (barang dagangan) untuk mengeruk keuntungan financial bagi segelintir elite yang terlibat. Sementara kekumuhan, kemiskinan, kesemerawutan serta soal kemacetan tak pernah diperhatikan.

Di titik-titik itulah tubagus menggugat. Melalui 48 esay yang terkumpul dalam buku ini, Tubagus mencoba untuk memberikan kritikan bahwa sebenarnya, ia tidak begitu setuju Pecinan dijadikan wilayah turisme. Ia ingin mengembalikan Pecinan sebagai tempat eksotis yang selama ini seakan-akan sekedar menjadi objek tatapan (object of the gaze) dari kalangan turis. Tubagus ingin mengembalikan anggapan bahwa Pecinan tidak boleh dipandang sebagai identitas yang bersifat statis. Ia berharap bahwa kawasan Pecinan harus berubah sesuai dinamika kehidupan yang ada.

Tidak hanya di bidang social dan tata kota saja yang menjadi bidikan Tubagus dalam buku setebal 250 halaman ini. Di bidang seni misalnya, Tubagus memandang seni bukan sekedar sebagai luapan estetika untuk membuktikan keahlian manusia mempraktikkan rasa keindahan. Ia menanggap bahwa kesenian sebagai kekuatan yang harus terlibat secara social. Untuk itu, ia selalu menggembar gemborkan tentang kehadiran mural untuk memperindah kota. Terutama diwilayah Pecinan, Tubagus sangat menekankan adanya kesenian mural sebagai tanda yang menunjukkan autentitas masyarakat Pecinan.

Di lain sisi, Tubagus sangat mengkritik keras upaya berkesenian yang sekedar menjiplak atau bergenit ria mengintimidasi kota lain yang memiliki akademi seni. Ia berkeinginan untuk menampik mitos yang telah dianggap mapan, bahwa Semarang adalah “kuburan bagi kesenian dan seniman”. Ia mengharapkan, bahwa Semarang dapat bangkit dan menjadi Kota yang memiliki nilai kesenian tinggi seperti masa lalu.

Sejarah keemasan kesenian Semarang, Ia sajikan dengan menuliskan kisah tiga orang tokoh seniman yang berasal dari Semarang, yakni Jongki Tio, Kok Poo, dan A.S Kurnia. Mereka yang dianggap Tubagus sebagai orang yang berjasa terhadap kesenian yang ada di Semarang. Namun, namanya kini tak pernah terdengar disebut lagi oleh generasi muda saat ini.

Secara keseluruhan, buku karya Tubagus P.Svarajati ini begitu mempesona. Kritik yang ia sampaikan tidak hanya kritik kosong tanpa solusi. Meski kadang, ia termasuk orang yang cenderung “pemarah” dalam menyampaikan kritiknya tersebut. Namun, secara keseluruhan, membaca tulisan-tulisan Tubagus, membuat kita enjoy dan begitu menikmati alur demi alur yang disajikan.

Terlepas dari kekurangan Tubagus, kumpulan esay yang dikumpulkan menjadi buku hebat ini, Tubagus membuat kita sadar tentang berbagai permasalahan yang terjadi di depan mata kita, juga solusi untuk mengembangkan kawasan Pecinan khususnya, dan Semarang pada umumnya untuk menjadi lebih baik. Benar yang dikatakan Gunawan Budi Susanto dalam endorsement buku ini, bahwa jika ada pertanyaan siapa yang mesti diajak bicara, sebagai pemangku kepentingan, tentang penanganan suatu kawasan dari segenap aspek di Kota Semarang, terutama kawasan Pecinan, jawabannya adalah Tubagus P.Svarajati!.

Senin, 29 Oktober 2012

Narasi Kecil Melawan Lupa

Judul Buku      : Melawan Lupa;Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali
Editor              : Agung Wardana & Roberto Hutabarat
Tahun Cetak    : 2012
Penerbit           : Taman 65 Press
Tebal               : 184 Halaman
Resentator       : Kenthip Pujakesuma


Leganya Hatiku mendengarnya, karena kegelisahanku terjawab sudah..
Namun aku tidak peduli dengan sejarah kakekku yang mungkin beringas saat itu…
Aku berpikir kala itu hanya ada dua pilihan yang sangat dilematis
….Membunuh atau Dibunuh….
Mungkin saja kakekku memilih untuk membunuh
Namun, di akhir hayatnya justru dia yang harus mati terbunuh

Penggalan puisi berjudul ??? karya Indra Kusuma ini adalah salah satu dari tulisan tentang kengerian gerakan G 30 S PKI yang terjadi di Bali. Tulisan tulisan itu tertuang dalam sebuah buku berjudul Melawan Lupa; Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali. Buku setebal 184 halaman terbitan Taman 65 Press ini merupakan salah satu dari sekian banyak buku yang mencoba menguak kembali peristiwa masa kelam masa lalu.

Peristiwa G 30 S PKI adalah salah satu Peristiwa kelam yang saat ini hampir dilupakan oleh bangsa Indonesia. Bangsa ini memang dikenal sebagai bangsa pelupa, lupa atas dosa masa lalu, lupa atas kejadian penyimpangan masa lalu dan melupakan peristiwa kelam masa lalu.

 Buku berjudul Melawan lupa, Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali ini memang mengupas secara mendetail tentang peristiwa G 30 S PKI yang terjadi 65 tahun silam. Didalamnya terdapat cerita-cerita tentang bagaimana keberingasan sejarah kelam bangsa Indonesia waktu itu. Beragam peristiwa diceritakan oleh anggota Komunitas Taman 65 Bali yang merupakan keluarga dari peristiwa Gestok tersebut. Tidak hanya keluarga korban saja, melainkan dari keluarga Tameng.

Buku ini mencoba mengingatkan kembali kepada pembaca, untuk tidak menerima begitu saja pernyataan yang ditulis dalam buku sejarah yang beredar selama ini. Anggapan bahwa sejarah yang bergulir saat ini merupakan penipuan oleh pemerintah pada waktu itu. Saat itu tidak ada seorang pun berani menentangnya, karena mempertanyakan tragedy 65 saja sudah dianggap melecehkan “sejarah resmi” bikinan Negara. Bangsa ini digiring dalam sebuah ingatan yang mistis tentang kepalsuan tersebut dengan cara penataran P4, kurikulum sekolah, museum, dan film yang wajib ditonton oleh setiap warga Indonesia.

 Tindakan pendiaman atau membuat orang lupa, menjadi tindakan sistematis yang dilakukan oleh penguasa waktu itu. Hal ini dimulai ketika para pelajar di sekolah diharuskan untuk menerima “asupan” dari penguasa akan sejarah yang berjalan di Indonesia. Upaya untuk meluruskan cara penulisan catatan atau sejarah inilah yang di giatkan oleh para penulis buku Menolak Lupa;. Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali. Misalnya tentang kekerasan atau pembantaian politik G30 S PKI. Sejarahnya hanya tersedia versi penguasa lengkap dengan versi pembenarannya. Perlu ada upaya untuk menggali, mengkaji dan menulis ulang perjalanan sejarah Negara, bangsa dan masyarakat negeri ini.

Buku setebal 184 halaman ini cukup jelas menggambarkan sejarah versi komunitas taman 65 Bali. Meski buku ini tidaklah dapat mewakili kompleksitas sejarah kekerasan politik 1965-1966 dan melakukan simplifikasi atas dinamika taman 65 berserta nilai nilai yang hidup dalam berkomunitas. Namun penulis berusaha untuk menyajikan pemikiran dan refleksi atas hubungan personal mereka dengan sejarah. Untuk itulah, tulisan buku ini dapat dikatakan sebagai narasi kecil untuk membongkar sejarah yang saat ini sudah dianggap mapan. Harapannya bertujuan untuk membongkar narasi sejarah yang sepertinya dengan sengaja membungkam kebenaran sejarah untuk me-lupa-kan ingatan masyarakat tentang kekejaman waktu itu.

Rabu, 25 Juli 2012

Berkhayal Jika Dunia Tanpa Manusia

The World Without Us
 Judul Asli                              : The World Without Us
 Judul Terjemahan                : Dunia Tanpa Manusia (Penjelasan Mencengangkan Tentang Apa Yang Terjadi Pada Bumi Bila Manusia Tak Ada Lagi)
Penulis               : Alan Weisman
Penerjemah       : Fahmy Yamani & Alex Tri Kantjono W,.
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2009
Tebal                   : 430 Halaman
Harga                  :,-
Resentator         : Kenthip Pujakesuma




Apa jadinya bumi tanpa manusia? Bayangkan jika dunia tanpa kita, karena kita secara misterius hilang dari peradaban bumi ini. Entah karena virus mematikan yang manusia ciptakan sendiri, dan kemudian virus itu menyerang manusia dan membumihanguskannya. Atau, sekelompok Alien yang menculik semua manusia di bumi, dan membawanya ke planet tempat mereka tinggal sebagai hewan peliharaannya. Mungkin semua itu mustahil, namun Alan Weisman mencoba membawa kita menjawab pertanyaan di atas. Sebuah pertanyaan dari bagaimana jadinya bumi tanpa manusia.

Alan Weisman adalah mantan Editor di Los Angeles Times Magazine dan seorang Produser Radio senior di Homeland Productions, serta seorang dosen yang mengajar Jurnalis di University of Arizona. Esainya yang berjudul “Earth Without People “ (majalah Discover,Februari 2005) yang diperdalam menjadi sebuah karya buku ini dengan judul The World Without Us, terpilih untuk Best American Science Writing 2006.

Lewat Buku The World Without Us yang diterjemahkan kembali kedalam bahasa Indonesia berjudul Dunia Tanpa Manusia ini, Alan Wiesman mencoba membawa kita pada sebuah kondisi dimana dunia melanjutkan siklus kehidupannya tanpa campur tangan dan kehadiran manusia. Dengan penjelasan yang cukup mencengangkan sekaligus menggairahkan,  pria yang juga seorang wartawan ini mencoba membawa kita kedalam sebuah imajinasi tingkat tinggi tentang dunia sepeninggal kita.

Pada hari setelah manusia menghilang, alam akan segera mengambil alih dan langsung melakukan tugasnya membersihkan sampah-sampah yang ditinggalkan manusia. Berbagai infrastruktur yang ditinggalkan oleh manusia akan diurai menjadi fosil-fosil. Tanah tanah kering akan segera ditumbuhi pepohonan. Hutan lebat seperti Bialowieza Puszcza, hutan purba yang masih asri dan alami yang terdapat di perbatasan Polandia dan Belarusia akan memenuhi bumi. Bumi akan kembali seperti yang disebut Alan Weisman sebagai Taman Firdaus.

Gedung-gedung pencakar langit akan runtuh tergerus air dan kemudian akan menjadi batuan-batuan. Sementara sampah plastic serta alumunium dan sejenisnya yang konon tak dapat terurai lagi, akan menjadi hadiah terakhir manusia kepada bumi ini. 

Pandangan bahwa pada suatu hari alam dapat menelan segalanya termasuk sebuah kota modern seperti New York City, memang sangat sulit diterima oleh akal sehat. Bagaimana bias, kota modern yang dibangun dengan pondasi kokoh dan juga bahan yang kuat, dapat dikalahkan oleh alam. Namun kekuatan alam tidak dapat diremehkan, bahkan kekuatan alam untuk meruntuhkan dan mengurai kota modern tersebut akan lebih singkat daripada yang kita bayangkan.

Andai manusia tak pernah muncul, lalu bagaimana kira-kira nasib planet ini? Dan andai manusia menghilang dari dunia ini, apa yang akan terjadi?. Itulah pertanyaan mendasar mengenai buku yang ditulis oleh Alan Weisman ini. Pertanyaan  pertama, ia jawab dengan menggambarkan berbagai kondisi dimana dahulu saat manusia belum ada. Bagaimana keindahan ala mini begitu eksotis. Hutan purba Bialowieza Puszcza contohnya, kemudian tempat-tempat lain yang masih indah dan asri karena belum terjamah oleh manusia.

Lalu menjawab pertanyaan kedua, Alan Weisman mengatakan bahwa sepertinya dunia memiliki dua pilihan. Ini menyangkut eksistensi manusia yang ada di dunia ini. Kehadiran manusia yang tak pelak juga sebenarnya dibutuhkan oleh sebagian makhluk hidup. Walau tak semuanya, namun manusia memiliki sebuah peranan yang cukup penting dalam siklus kehidupan di dunia ini. Penempatannya sebagai spesies tertinggi dalam rantai makanan, setidaknya membuktikan bahwa manusia sangat menentukan dalam perkembangan alam ini.

Apabila manusia pergi, banyak juga binatang yang merasa kehilangan. Apalagi binatang yang hidup dengan mengandalkan manusia, seperti kutu dikepala manusia, jamur di kulit manusia dan binatang lain yang hidup hanya di tubuh manusia. Selain itu, hewan peliharaan yang setiap hari diberi makan seperti anjing, kucing, kuda, ayam, dan ternak lainnya pun akan merasa kehilangan. Walaupun anggapan ini dapat dibantah, karena sebenarnya, tanpa bantuan manusia, hewan-hewan tersebut dapat hidup seperti lainnya. 

Buku setebal 430 halaman ini menggambarkan bagaimana kondisi dunia ini apabila ditinggalkan oleh manusia. Alan Weisman dengan lincahnya memainkan pengandaiannya seperti sedang menceritakan kepada kita tentang kehidupan yang akan datang. Bahasa yang digunakan untuk menyadarkan manusia bahwa selama ini, manusialah yang menyebabkan kerusakan di muka bumi, dikemas dengan santun dan bijaksana. Seolah tidak menggurui, namun menimbulkan kesadaran pembacanya. Diakhir tulisannya, Alan Weisman mencoba menggambarkan bagaimana kehidupan sebuah daratan di Benua Afrika. Sebuah gambaran kehidupan yang menerapkan perilaku simbiosis mutualisme, dimana alam dan manusia dapat menyatu menjalankan peranannya masing-masing. Tak ada pengrusakan, tak ada keserakahan. Dan pada kondisi itulah sebenarnya, bumi dan manusia saling membutuhkan.