Jangan Bercerai-Berai Karena Perbedaan

Perbedaan memang tidak mungkin tidak terjadi, selama manusia terus berfikir. Maka perbedaan tersebut dapat menjadi sebuah rahmat, apabila dengan perbedaan tersebut, akan menumbuhkan rasa saling hormat-menghormati dan menghargai. Namun perbedaan akan menjadi adzab, apabila dalam diri kita tertanam sebuah virus bernama fanatic sempit.

Pelajaran Dari Romo Carolus

Charles Patrick Edwards Burrows,OMI adalah nama kecil sang peraih penghargaan tersebut. Ia adalah seorang Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Setelah kedatangannya di Indonesia pada tahun 1973, ia tertarik untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di Kampung Laut Kabupaten Cilacap.

Rintihku

Aku menatap dalam lara Kembali menitikkan air mata Ia tak berdosa Namun aku tega menjatuhkannya Butir putih itu Menghujam deras menghancurkan hidupku Remuk sudah hati menatap cahya Mu Yang terang, namun dihatiku kau gelap Tertutup nafsuku, egoisku, dan dosaku.

Tapak-Tapak Suci, Sebuah Kisah Perjalanan Pemuda Desa

“ Bukalah surat ini ketika kau berada di antara dua pulau, saat kau terombang ambing di tengah lautan, dan saat itu kau akan merasakan betapa aku menyayangimu”..

La Tahzan, Saudaraku!

La Tahzan, Saudaraku. Kecelakaan yang menimpa saudara kita penumpang Shukoi Superjet 100 memang sangatlah tragis. Kita semua bersedih. Namun jangan kita terlarut dalam kesedihan. Yakin bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa telah merencanakan hal dibalik itu semua.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Agustus 2014

Siapapun Kita, Pasti Merindukan Ramadhan Tahun Depan

Lama sekali tidak membuka blog ini. Rasanya sudah banyak sampah yang harus kubersihkan agar blog yang sederhana ini kembali elok dan pantas untuk dilihat.

Dalam kesempatan ini, admin ingin sekali mengajak kita untuk merenungi bulan yang baru saja pergi meninggalkan kita. Yah...dialah Ramadhan.

Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Tak ada lagi hari-hari dimana setiap amal baik kita dilipatgandakan pahalanya oleh Tuhan. Sebab, bulan yang penuh ampunan, penuh berkah dan bulan dimana diturunkannya kitab suci umat Islam itu kini telah tiada.

Bagi sekelompok orang, banyak yang bahagia dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Sebab, mereka tidak perlu harus bersusah payah menahan lapar dan dahaga di siang hari selama satu bulan penuh. Selain itu, mereka juga tidak diwajibkan untuk melakukan berbagai kegiatan peribadatan yang dirasa sangat "mengganggu".

Namun itu hanya bagi orang yang memiliki keimanan kurang dan tidak memahami betapa mulianya Ramadhan. Bagi orang yang sadar akan hal itu, mereka akan sangat bersedih melepas kepergian Ramadhan itu. Sebab, mereka tidak tahu lagi apakah usianya akan mampu menjumpai Ramadhan tahun depan untuk berlomba melakukan taubat dan mencari berkah dari Tuhan.

Entah dikelompok pertama atau kedua kita saat ini. Yang jelas, semua orang pasti berharap akan bertemu dengan Ramadhan di tahun depan. Semoga kita bisa menjumpainya bersama-sama, sehingga bagi kelompok pertama akan mampu memperbaiki keimanannya, sementara kelompok kedua akan dapat mempertebal keimanannya. Itu sudah!

Rabu, 20 Februari 2013

Selamatkan Industri Batik Dalam Negeri!

Kota batik di Pekalongan,
Bukan Jogja eh Bukan Solo..


Salah satu bait dari lagu Slank Berjudul “SBY (Sosial Betawi Yoi)” ini menggambarkan Pekalongan sebagai Icon batik di Nusantara. Bukan hanya Pekalongan, kota lain seperti Solo, Yogya, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis, Lasem, Madura, Jambi,Tuban, Banyumas, Palembang, Trenggalek, dan kota lainnya juga tempat industry batik. Untuk alas an itulah, tidak salah jika Batik terkenal salah satu kebudayaan asli Indonesia. Hal ini lebih dikuatkan dengan ditetapkan oleh UNESCO (United nations educational, scientific and cultural organization) bahwa batik sebagai Warisan Budaya milik Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009.

Untuk melestarikan batik sebagai budaya bangsa, masyarakat berduyun-duyun membeli dan memakai batik. Kesan batik yang kuno, kini mulai terkikis dengan seringnya batik digunakan oleh masyarakat. Tidak hanya dalam acara resmi seperti pernikahan atau acara sacral lainnya, batik kini menjadi fashion dan trend di Nusantara.

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pelestarian Batik sebagai budaya bangsa, tentu menjadi angin segar bagi pengrajin batik. Secara signifikan, omzet mereka dipastikan meningkat. Permintaan pasar akan produk batik pasti melonjak. Dan hal ini akan berimbas pada peningkatan pendapatan masyarakat terutama pengrajin dan pembisnis batik.

Namun, industry batik yang seharusnya maju, harus dihadapkan dengan permasalahan pelik yang selalu saja mencekik produk dalam negeri. Permasalahan yang sejak dulu menjadi musuh bagi pengusaha dan pengrajin kelas menengah kecil, impor. Sudah sejak lama komoditas asli negeri ini, harus kalah saing dengan barang impor.

Kini, batik yang menghadapi permasalahan itu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Rabu (20/2/2013), tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari China ke Indonesia dengan nilai US$ 30 juta, atau sekitar Rp 285 miliar sepanjang 2012 lalu. Impor terbesar adalah untuk jenis kain tenun dicetak batik yaitu sebanyak 677,4 ton dengan nilai US$ 23,3 juta, dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik sebanyak 199,2 ton dengan nilai US$ 1,8 juta pada 2012 lalu.

lagi, impor dari negeri tirai bambu menjamur di negeri ini. Setelah barang elektronik, buah-buahan, aneka mainan anak-anak, kini merambah ke dunia tekstil. Pepatah bahwa tidak ada barang di negeri ini yang lolos dari gempuran produk China sepertinya bukan gurauan. Buktinya, produk impor dari China begitu merajai di Indonesia dan membunuh pengusaha dan pengrajin kelas menengah ke bawah. Akibatnya, tidak ada kata lain selain gulung tikar.

Dari data yang dikutip detik.com, masuknya impor produk batik ini terbesar terjadi pada Juli 2012 yaitu sebanyak 106,7 ton dengan nilai US$ 3,6 juta, dan pada Desember 2012 sebanyak 87,4 ton dengan nilai US$ 3 juta. Selain jenis kain batik, ada juga beberapa bentuk barang jadi seperti jaket, blazer, celana, baju untuk perempuan dan laki-laki, serta sapu tangan, syal, scarve, dan dasi dari proses batik.

Tentu masuknya impor batik dari China ini harus segera di evaluasi. Pemerintah dengan regulasi yang mengatur tentang ekspor impor harus segera bertindak. Tujuannya hanya untuk melindungi dan menyelamatkan pengusaha dan pengrajin dalam negeri. Jangan sampai, karena kalah modal, banyak pengusaha dan pengrajin gulung tikar. Akibat terburuknya, batik hanya akan tinggal sejarah karena tidak ada orang lagi yang berminat membuat batik atau memproduksinya.

Bukan rahasia lagi, jika barang impor dari China tak kalah kualitasnya dari barang local. Selain itu, harga yang ditawarkan batik impor dari China cukup mengerikan. Harga batik China jauh lebih murah bila dibandingkan dengan batik produksi lokal Pekalongan. Selisih harga antara keduanya bisa mencapai Rp 20-30 ribu/helai.

Masyarakat menengah ke bawah, tentu akan mengejar produk-produk impor dari China tersebut, dibanding membeli buatan asli Indonesia. Selain harganya relative murah, kualitasnya pun dapat dipastikan tidak kalah saing dengan produk lokal. Bahkan ada beberapa barang yang kualitasnya lebih bagus daripada batik local.

Sudah saatnya pemerintah mengambil sikap. Jika dibiarkan berlarut, barang-barang tekstil dari China membanjiri Nusantara. Hal ini akan berakibat fatal terhadap kelangsungan produksi batik dalam negeri. Jangan sampai, tragedy pengrajin mainan Indonesia yang harus berhenti berproduksi hanya karena kalah saing dengan produk mainan dari China terjadi juga terhadap produksi batik. Kita tidak menginginkan, industry batik kelas menengah kebawah kolep, kemudian banyak karyawan yang harus diberhentikan. Akibatnya, angka pengangguran negeri ini semakin bertambah.

Tentu ada cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan batik dari kehancuran akibat impor dari China tersebut. Seperti pembatasan impor, pengenaan bea cukai yang tinggi, sampai pelarangan impor demi memajukan industry perbatikan dalam negeri. Atau dengan memberikan bantuan agar usaha batik menengah ke bawah mampu bersaing dalam pertarungan pasar global.

Rasanya aneh, jika kita mengaku bangga dengan batik sebagai warisan budaya nusantara, namun membeli batik buatan China hanya karena pertimbangan harga. Selain itu, tidak lucu juga apabila para pengrajin batik dan pengusaha batik kelas menengah ke bawah, harus bangkrut ditengah kemajuan batik dalam negeri. Maraknya peminat batik, seharusnya menjadi ajang bagi pengrajin batik dan pengusaha batik tanah air untuk meningkatkan taraf hidupnya yang lebih baik. Selain itu, batik yang telah menjadi budaya khas Indonesia, harus dijaga kemurniannya, jangan sampai orang mengira, bahwa batik adalah hasil budaya China. Mari bersama-sama kita selamatkan batik dalam negeri, sebagai perjuangan mempertahankan budaya luhur bangsa ini.

Kamis, 07 Februari 2013

Agama dalam Dekapan Politik Busuk

Menarik jika membaca sebuah tulisan Ahmad Syafii Maarif dalam Rubrik Opini di Surat Kabar Harian Kompas (6/2/13). Tulisan berjudul “Politik dan Uang” tersebut begitu menggelitik. Pendiri Maarif Institute tersebut dengan gamblang menyoroti kasus perpolitikan negeri ini. Titik permasalahannya sekali lagi tak lepas dari permasalahan yang kini masih saja menjadi momok negeri ini. Korupsi!.

Tulisan ini dimulai Syafii dengan menggambarkan tentang perdebatan panjang kurun waktu 1930 an antara kaum santri nasionalis dan nasionalis non santri. Perdebatan tersebut tidak lain tentang permasalahan politik itu kotor atau tidak.

Dalam perdebatan tersebut, kaum non santri menegaskan bahwa politik itu sampai kapanpun tetap kotor, sehingga agama yang suci jangan sampai terkontaminasi dengan membawanya kedalam kotornya politik tersebut. Sementara itu, kaum santri mengganggap, justru karena politik itu kotor, maka harus dibersihkan dengan kesucian agama.

Dari pandangan kedua belah pihak, sebenarnya keduanya mengakui bahwa politik itu benar-benar kotor. Perbedaannya adalah, kaum non santri ingin memisahkan agama agar tidak bercampur dengan kotornya politik. Di sisi lain, kaum santri bersikukuh bahwa agar politik itu tidak menjadi kotor, maka politik jangan sampai dipisahkan dari agama.

Kekhawatiran itu Benar Terjadi

Ada kesamaan perdebatan kaum santri dan non santri yang terjadi sekitar 1930 an itu, dengan kasus yang terjadi saat ini. Kasus di Gunturkannya Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK dalam kasus impor daging sapi dapat menjadi alas an mengapa kaum non santri menginginkan politik dipisahkan dari agama.

Bukan rahasia lagi, jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah salah satu partai yang dengan berani mengatakan partai beridiologi islam. “Bersih, agamais dan professional” yang menjadi slogan partai dakwah ini dipertanyakan kebenarannya setelah presiden mereka menjadi tersangka dalam kasus Impor daging sapi.

Tidak hanya PKS yang menjadi sorotan dalam kasus ini, mau tidak mau, Islam pun menjadi “tersangka”. Serangan kaum lain yang selama ini selalu menjelek-jelekkan Islam akan terdengar begitu nyaring. Dengan kejadian ini, mereka akan semakin tertawa dan mengejek Islam. Seolah menemukan momennya, kasus tersebut membuka ruang untuk mereka untuk menyebarkan kebenciannya.

Disinilah mengapa gagasan Nur Kholis Madjid tentang “Islam Yes, Partai Islam No” patut dipertimbangkan.  Pemikiran yang kemudian dikenal dengan sebutan “Sekularisasi” ini, seharusnya menjadi acuan dalam perpolitikan Indonesia saat ini. Membedakan antara mana ranah agama dengan partai politik, tentu hal yang harus segera dilakukan. Hal ini untuk menghindari terseretnya kesucian agama lebih masuk ke dalam busuknya politik dewasa ini.

Gagasan Cak Nur tersebut sepertinya mendesak dilakukan saat ini. Dikala cita-cita luhur para kaum santri yang dahulu mencoba membersikan kebusukan politik, dengan mengikutkan agama dalam perpolitikan Nasional, sudah berubah haluan. Mereka para tokoh santri terdahulu yang terjun ke dunia politik, dengan kokoh menjaga martabat dirinya agar tidak terkontaminasi dengan kotornya politik. Namun sekarang, sebagian tokoh santri yang juga mencoba meneruskan cita-cita luhur itu, justru bangga berkubang dalam luapan lumpur kotor politik.

Agama yang notabene adalah suci, harus ikut terlibat dalam kotor dan busuknya oknum yang bergelut di dunia politik. Serangan massif media massa, semakin membuat agama yang “di dzolimi” itu tercoreng. Ungkapan “Kiainya saja korupsi, bagaimana santrinya?” atau “Presiden partai yang katanya partai Dakwah saja di Gunturkan, bagaimana pengikutnya?” dan yang lebih parah lagi “Apakah agama mereka tidak mengajarkan pelajaran moral, bahwa mencuri uang rakyat itu termasuk perbuatan dosa?”.

Ungkapan dan pertanyaan itu mau tidak mau akan membuat kita penganut agama menjadi malu. Agama yang berarti “A” tidak dan “Gama” yang berarti rusak, malah dibuat tameng untuk menimbulkan kerusakan. Hal ini harus segera ditindak lanjuti, demi kesucian dan keluhuran agama.

Tentukan Jenis Kelamin

Tidak semua partai dengan symbol agama atau yang dengan tegas menyatakan bahwa landasan idiologis partainya adalah agama, kemudian tersandung masalah moral. Sejarah perpolitikan Indonesia mencatat, dua partai besar berlandaskan agama yang sukses menjadikan agama sebagai landasan dan ajaran moral yang wajib dipedomani dalam mengawal perilaku politik anggotanya. Sebut saja Masyumi dan Partai Katolik. Meski keduanya memiliki landasan agama yang berbeda, namun para tokohnya sangat ketat mengawal moralitas anggotanya.

Para tokoh kedua partai moralis tersebut percaya, bahwa tanpa moralitas yang baik, politik pasti merusak (deskruktif). Lalu bagaimana dengan kondisi yang sekarang terjadi dalam perpolitikan kita?. Pertanyaan yang cerdas. Dalam kondisi politik yang sudah rusak ini, sudah selayaknya kita mencoba melakukan apa yang kaum non santri pada era 1930-an dan juga tentang mandat Cak Nur dengan memisahkan keterlibatan agama dalam politik.

Sudah saatnya partai politik juga para politisi di Negeri ini menentukan jenis kelamin mereka. Jika masih ingin mengaku sebagai partai atau politisi yang beridiologi agama, maka harus membuktikannya dengan memberikan manfaat kepada orang banyak. Karena sebaik-baiknya manusia, adalah yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Namun, jika memang tidak dapat melakukan hal tersebut, sudah buang saja simbol-simbol agama yang selama ini dipaksakan melekat. Jangan kepalang tanggung, langsung saja berendam dan menyelam dalam samudra politik yang kotor dan busuk itu. Bergabung dengan para politisi lain yang “seiman”.

Sumber Kompas edisi Rabu 6/2/2013 dan berbagai sumber terkait.

Selasa, 08 Januari 2013

Ngangkang, Lebih Enak Lho!

Gaung genderang gender yang diteriakkan oleh tokoh Feminisme sekaliber Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet, tak jua terasa di bumi Kartini. Pandangan sebelah mata terhadap perempuan masih saja dijumpai di negeri ini. Banyak kebijakan-kebijakan publik yang dinilai melukai semangat persamaan gender.

 Banyak kasus ketidaksetaraan gender terjadi di negeri ini menimpa kau hawa. Ironisnya, tak sedikit yang menilai bahwa kasus yang menimpa wanita disebabkan oleh tingkah lakunya sendiri. Bagai jatuh tertimpa tangga. Wanita di negeri ini selalu disalahkan atas setiap peristiwa yang menimpanya.

 Masih ingatkah tentang kasus pemerkosaan di angkutan umum yang terjadi di salah satu kota besar di Indonesia?. Apa yang terjadi saat itu, dikala si wanita korban tindakan asusila meminta perlindungan dan penegakan hukum setinggi-tingginya kepada pemerintah, ia malah disalahkan. Dengan enteng sang gubernur waktu itu mengatakan bahwa penggunaan rok mini oleh perempuan dalam angkutan umum menjadi penyebab awal keinginan sejumlah oknum untuk melakukan tindakan asusila.

 Begitulah wanita, sosok yang selalu didiskriminasi. Mulai sosoknya yang dijadikan objek iklan, kemolekan dan lekuk tubuhnya dipampang di ruang public, hingga kasus wanita yang selalu saja kalah bila berhadapan dengan laki-laki. Ada keluarga yang bercerai, yang disalahkan pasti perempuan. Tidak punya keturunan, wanita yang menjadi korban. Begitu dan selalu begitu yang terjadi.

 Kasus terbaru adalah surat edaran walikota Lhokseumawe, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Suaidi Yahya, tentang pelarangan perempuan mengangkang saat di bonceng. Surat edaran tersebut diberlakukan pada seluruh perempuan di Lhoksumawe tak pandang bulu. Dari anak-anak, remaja putri, hingga ibu serta nenek di Lhoksumawe dilarang ngangkang saat di bonceng.

 Alih-alih menjaga kesopanan dan harkat martabat wanita seperti yang menjadi tujuan dari peraturan itu, kebijakan ini mendapat cemooh dan menimbulkan pro kontra. Banyak kalangan yang menilai penerapan kebijakan ini terlalu premature. Kebijakan yang terlalu dipaksakan tanpa melihat efek yang akan ditimbulkan.

 Melupakan hak dasar


Salah satu hak dasar manusia adalah hak untuk mendapatkan keselamatan dan kenyamanan. Pemaksaan kebijakan wanita tidak boleh ngangkang saat dibonceng tentu menafikkan hak dasar tentang keselamatan sekaligus kenyamanan. Menurut beberapa pakar transportasi, membonceng wanita dengan posisi miring, akan menjadikan kendaraan terutama sepeda motor menjadi tidak seimbang. Kelebihan berat di sebelah sisi kendaraan, mengakibatkan sepeda motor mudah oleng, dan mengalami kecelakaan.

 Kita bayangkan saja, jika seluruh wanita harus dibonceng dengan posisi miring, berapa korban yang akan ditimbulkan akibat kecelakaan di jalan?. Tidak jarang seseorang yang dibonceng, mengantuk. Dengan posisi miring, seseorang akan mudah terjatuh karena tidak memiliki keseimbangan yang baik. Dan ketika seseorang jatuh di jalan yang padat kendaraan, pasti menimbulkan kecelakaan karambol yang akan menimbulkan korban lainnya.

 Selain factor keselamatan, factor kenyamanan juga harus diperhatikan. Selain wanita yang dibonceng, para pria atau siapapun pengendara akan lebih nyaman bila yang dibonceng mengangkang. Kendaraan akan lebih stabil apabila yang dibonceng mengangkang, dibanding yang dibonceng duduk miring. Bagi wanita, dibonceng dengan posisi mengangkang pasti lebih enak dan nyaman. Selain tumpuan kaki yang lebih kuat karena menggunakan dua buah kaki, keseimbangan juga akan terjaga.

 Kebijakan larangan ngangkang saat dibonceng bagi wanita tentu menafikkan factor kenyamanan dan keselamatan wanita sendiri. Berdalih demi melindungi marwah perempuan, mewujudkan kesopanan, dan juga sebagai representasi dari budaya aceh yang berlatar belakang Syariat Islam, larangan ngangkang saat dibonceng bagi wanita telah menciderai hak dasar bagi manusia itu sendiri.

 Bukan syariat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Amidhan, mengatakan, dalam Syariat Islam, tidak ada aturan yang secara jelas membahas perempuan duduk ngangkang. Prinsip dasar Syariat Islam adalah membawa kemasalahatan atau membawa kesejahteraan bagi masyarakat, bukan sebaliknya membawa keresahan. Jika wanita dibonceng dengan posisi miring dapat menimbulkan banyak terjadi kecelakaan, hal itu berarti larangan membonceng ngangkang menimbulkan keresahan.

 Inilah yang harus dibenahi jika pemerintah Lhoksumawe mengeluarkan larangan itu berdasarkan ingin menegakkan Syariat Islam. Syariat islam tidak pernah membebani umatnya. Jika peraturan itu didasari adat istiadat serta budaya di Aceh, bisa dimaklumi.

 Namun, dalam mengeluarkan sebuah peraturan, tentu tidak akan melepaskan dari sisi historis dan juga sosiologis masyarakatnya. Mari kita mencoba mengenang sejarah, baik dalam Islam maupun sejarah Aceh. Dalam Islam, diceritakan bahwa Siti Aisyah r.a (Istri Nabi Muhammad SAW), dan perempuan lainnya waktu menunggang kuda ataupun onta saat berperang, pasti duduk dengan mengangkang. Mereka tidak mungkin duduk miring, jika duduk dengan posisi miring, mereka tidak akan bisa mengendalikan kuda ataupun onta yang ditungganginya.

 Dari sisi sosiologis dan juga historis Aceh, kita mengenal dan mengerti bahwa Cut Nyak Dhien, Cut Mutia dan beberapa pahlawan perempuan Aceh dahulu, menunggang kuda saat berperang juga pasti duduk dengan posisi mengangkang. Kita bayangkan saja, apabila pahlawan Nasional Aceh tersebut menunggang kuda dengan cara duduk miring saat berperang, tentu akan menjadi lucu dan tidak berwibawa. Selain itu, hal sebodoh itu pasti tidak akan terjadi.

 Lalu, apakah duduknya Siti Aisyah, Cut Nyak Dhien dan Cut Mutia yang mengangkang saat menunggang kuda dianggap tidak sopan? Dari sisi mana peraturan tersebut di buat, karena dari sisi historis dan juga sosiologis tidak nyambung?.

 Disinilah letak permasalahan tentang larangan duduk ngangkang yang akan diterapkan di Lhoksumawe. Sopan itu relative. Perempuan memang tidak sopan, jika duduk ngangkang saat dibonceng sepeda motor, dengan celana atau rok mini, sehingga auratnya terlihat. Selain itu, perempuan juga dianggap tidak sopan apabila ia mengangkang dan memeluk pria yang memboncengnya dengan erat, padahal mereka belum muhrim.

 Mengangkang akan dirasa sangat sopan, bila duduk dengan sewajarnya. Perempuan yang membawa barang atau anak kecil, akan lebih nyaman duduk mengangkang daripada miring. Selain itu, bagi yang sudah muhrim, tentu tidak ada masalah bagi mereka untuk duduk ngangkang. Karena diyakini atau tidak, dibonceng dengan posisi ngangkang, akan lebih enak dan nyaman, baik bagi pengemudi maupun penumpang. Tak percaya? Tanya saja pada mereka.

Minggu, 06 Januari 2013

Bola Salju Pelelangan Selaput Dara

Adalah Catarina Migliorini, gadis berusia 20 tahun asal Brasil yang menjadi bahan pembicaraan di tahun baru 2013 ini. Ia menggemparkan dunia dengan melelang keperawanannya seharga US$ 780 ribu (atau sekitar Rp 7,4 miliar). Anehya, seorang pria asal jepang bernama Natsu bersedia membeli keperawanan Catarina tersebut.

Menurut beberapa sumber, upaya Catarina Migliorini menjual keperawanannya untuk membangun rumah bagi keluarga-keluarga miskin di negara bagian Santa Catarina, Brasil. Missi itu ia lakukan karena Catarina telah berkecimpung dalam proyek ini selama kurang lebih 2 tahun. Dalam waktu sekejap saja, Catarina telah menjadi wanita dengan uang berlimpah.


Kemudahan Catarina mendapatkan uang dengan cara instan ini, diikuti pula oleh seorang gadis brasil lain bernama Rebbeca Bernardo. Gadis cantik asal Kota Sapeacu, Negara Bagian Bahia, Brasil ini mengikuti jejak seniornya, Catarina Migliorini untuk menjual keperawanannya. Dengan media internet, Rebecca menawarkan keperawanannya kepada laki-laki yang mampu memberikannya uang banyak. Diketahui sudah ada penawaran sekitar Rp. 337 juta, namun bukan tidak mungkin, angka itu akan bertambah mengingat Rebecca memiliki paras yang menawan.


Berbeda dengan Catarina, gadis cantik berusia 18 Tahun ini mengaku menjual selaput daranya untuk mengobati sang ibu yang sedang tergolek sakit. Ibu Rebecca diberitakan menderita penyakit sroke yang parah. Namun alasan ini segera dapat ditampik, karena ada pihak yang mengaku siap memberikan biaya pengobatan ibu Rebecca, namun ditolak. Ia mengatakan bahwa ia juga sebenarnya membutuhkan uang untuk hidupnya ke depan.


Sebuah Keputus-asaan


Ada peristiwa yang patut kita cermati dari kasus penjualan keperawanan ini. Kasus ini ditakutkan akan menjadi bola salju, yang akan menggelinding ke bawah dan semakin besar. Akan banyak gadis-gadis yang terinspirasi dari “kesuksesan” Catarina dan Rebecca. Alih-alih kebutuhan ekonomi, mereka akan dengan mudah menjual dan menjajakan keperawanan mereka ke orang lain.


Factor ekonomi menjadi alasan klasik. Meski kadang, globalisasi lah yang menjadi momok yang menyeramkan. Seperti yang dikatakan oleh M.Waters, bahwa globalisasi akan memperkecil halangan – halangan yang bersifat geografis pada tatanan sosial dan budaya dan setiap orang semakin sadar bahwa mereka semakin dekat satu sama lain. Dari kedekatan itulah, timbul kesamaan dan keserataan pola hidup dan budaya yang membuat seseorang akan mudah meniru gaya hidup orang lain. 


Dari globalisasi akan muncul sebuah sikap hidup konsumerisme dan mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara. Seseorang akan mudah melakukan apa saja untuk menjadi seperti idola mereka. Bergaya hidup mewah, meski bukan dari keluarga punya. Inilah yang menjadi penyebab seseorang melakukan pelbagai hal untuk mendapatkan keinginannya, termasuk harus melelang selaput dara.


Ditengah kehidupan yang semakin sulit, orang akan mudah sekali mengalami keputus-asaan. Bisa jadi, apa yang dilakukan dua gadis Brasil ini, merupakan sebuah keputusasaan. Putus asa karena terhimpit kemiskinan, putus asa karena terpuruk oleh system yang salah, sehingga hidup yang lebih baik tak jua di dapat.


Kasus Catarina da Rebecca besar sekali peluangnya terjadi di Indonesia. Sebetulnya sudah banyak sekali kasus yang sama terjadi di Indonesia, meski dalam bentuk yang sedikit berbeda. Bukan secara terang-terangan melelang keperawanannya kepada public via Youtube, di Indonesia kasus seperti ini dilakukan di bawah tangan. Berembel-embel nikah sirri, atau kawin kontrak, gadis cantik di negeri ini menjual keperawanan mereka. Bukan rahasia umum lagi, bahwa orang yang mau dinikah sirri oleh pejabat atau orang berduit, hanya mengincar kemegahan hidup dengan harta yang berlimpah. 


Banyak artis, perempuan cantik bahkan anak-anak dibawah umur yang rela di nikah secara sirri ataupun kontrak oleh pejabat dan orang kaya di negeri ini. Tujuan mereka hanya satu, memperolah uang banyak sehingga dapat hidup dengan gaya hidup mewah. Semua dilakukan meski harus menjadi budak dari laki-laki berduit. Dari kasus ini, adakah perbedaan dengan kasus penjualan keperawanan oleh Catarina dan Rebecca?. 


Kasus yang dilakukan Catarina dan Rebecca serta kasus lain yang serupa harus segera diantisipasi. Bukan hanya uang dan hidup mewah yang akan didapat oleh mereka yang senang mengambil jalan pintas, termasuk menjual keperawanan. Banyak bahaya yang akan diderita. Selain secara sosiologis terhadap masyarakat yang akan menurunkan citra dirinya, secara kesehatanpun bahaya akan datang mengancam. Penyebaran penyakit kelamin seperti HIV/AIDS, sipilis, raja singa, dan penyakit lainnya pun menjadi resiko yang suatu saat dapat menjangkitinya.


Pencegahan terhadap praktik-praktik tindakan amoral seperti ini harus dicegah sedini mungkin. Mulai dari keluarga kecil, yang meliputi anak-anak. Penanaman nilai-nilai agama yang selama ini dianggap efektif, semakin ditekankan. Juga penanaman moral dengan pancasila dan norma hidup lainnya juga penting ditekankan. Jangan sampai, ada saudara kita yang melakukan hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma, yang akan menjadikan nama baik keluarga tercoreng. 


Selain itu, sudah sepantasnya kita mencegah perbuatan mungkar yang terjadi di dunia ini. Meskipun tidak bisa dengan kekuatan, bisa dengan kata-kata bijak kita. Jika dengan kata-kata pun kita tidak bisa,dapat juga dilakukan dengan hati. Artinya kita meneguhkan kepada hati kita untuk tidak melakukan kemungkaran itu.

Rabu, 12 Desember 2012

Bumi Diambang Perang Dunia ke-3

Masih segar di benak kita, tentang kengerian kehancuran kota Hiroshima dan Nagasaki akibat Bom Atom yang diluncurkan oleh sekutu pada perang dunia ke-2. Entah kita sebagai generasi pada waktu itu atau hanya sebatas pelajar yang mempelajari sejarah, yang jelas kengerian peristiwa yang menandai berakhirnya perang dunia ke-2 itu masih saja terasa.

Hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima di Jepang akibat senjata nuklir “Little Boy” pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 ini, bukan menjadi akhir dari perang yang terjadi di bumi ini. Bayang-bayang perang dunia ke-3 yang kini menghantui bumi mulai terasa.

Seperti diberitakan beberapa media internasional termasuk di Indonesia, pada Rabu (12/12) Korea Utara meluncurkan Roket Unha-3 yang sukses membawa satelit Kwangmyongsong-3 ke Orbit luar angkasa pada pukul 10.00 waktu setempat. Roket diluncurkan dari pusat Antariksa Sohae di Tongchang-ri sebelah barat latu Pyongpyang. Keberhasilan peluncuran roket ini, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Negara Kim Jong-Un itu. Rakyat Korut menyambut gembira keberhasilan peluncuran roket Unha-3 dengan menggelar pesta di berbagai pusat kota dan jalan raya.

Namun, kegembiraan Korut tersebut berbanding terbalik dengan kengerian dan kegelisahan seluruh masyarakat di dunia. Dunia mengecam keras upaya Korut yang telah meluncurkan Unha-3 ini. Korea Utara dinilai telah melanggar Resolusi yang telah dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB No.1695 tahun 2006, resolusi No.1874 tahun 2009, dan resolusi 1718 tahun 2006.

Resolusi itu yang dikeluarkan yang salah satu isinya menuntut Korut agar menghancurkan semua senjata nuklir, senjata pemusnah masal, dan rudal-rudal balistik itu, serta resolusi yang dikeluarkan pada tahun 2009 itu yang isinya memperkeras sanksi bagi Korut atas tindakan negara tersebut melakukan uji coba nuklir pada 25 Mei 2009.

Namun bukan Korut namanya jika takut terhadap gertakan dunia. Buktinya, pada 2 Juli 2009, Korut melakukan uji coba peluncurkan rudal jarak dekat atau pendek berjarak tempuh 100 km dengan Nama KN-1. Dan beberapa hari setelah peluncuran itu, rudal jarak menengah Scud-B dan rudal antarbenua, Rodong-1 dengan daya jelajah 1.300 km, juga akan diujicobakan. Peluncuran rudal jarak menengah itu dilaksanakan pada Sabtu, 5 Juli 2009 dari Pangkalan Gitdaeryong, tidak jauh dari Distrik Wonsan, Provinsi Gangwon (lihat http://forum.kompas.com/internasional/33448-ada-china-di-semenanjung-korea.html).

Kehancuran Bumi

Dengan ketakutan dan kengerian yang diciptakan oleh Korut dengan upaya uji coba peluncuran Roket Unha-3 tersebut, tidak terlalu hiperbola jika kita membayangkan akan meletusnya perang dunia ke-3. Perang nuklir yang akan terjadi entah kapan itu, pasti akan lebih mengerikan dan memakan korban yang tak terhitungkan. Karena satu saja nuklir yang dijatuhkan, akan mampu meluluhlantahkan kota-kota besar di dunia.

Sudah seharusnya dunia melalui PBB melakukan tindakan antisipasi akan terjadinya perang dunia ke-3 itu. Memanasnya hubungan di Negara Asia Pasifik telah membuktikan bahwa perang itu sudah di depan mata.

Mari coba kita bayangkan, jika memang perang dunia ke-3 benar tarjadi. Perang yang tidak lagi menggunakan ribuan bahkan jutaan tentara dengan senapan di tangan, melainkan perang dengan ribuan roket yang melayang di angkasa membawa bahan ledak berbahaya bernama Nuklir. Perang kali ini bukan lagi perang dengan seberapa besar Negara atau seberapa banyak tentara yang dimiliki, melainkan seberapa canggih alat yang dimiliki Negara.

Dengan Nuklir yang beterbangan bagai kapas randu dan berjatuhan seperti hujan ini, bumi dipastikan akan menemui ajalnya. Kehancuran bumi akibat tekhnologi penghancur yang diciptakan manusia bernama Nuklir tidak dapat ditawar lagi. Entah seperti apa jadinya bumi ini. Gersang, udara busuk, radiasi, dan segala keburukan yang akan di timbulkannya akan dialami oleh bumi. Sementara penghuni bumi yang masih hidup, pasti mengalami gangguan dan bermacam penyakit mematikan dan akhirnya punah.

Maka yang ada hanya kenangan, bahwa kita pernah tinggal di sebuah planet yang dulunya indah bernama Bumi.

Garuda Benar-Benar Sekarat!

Indonesia itu anjing,,
Indonesia itu anjing
Indonesia, Indonesia,
Indonesia itu anjing……..

Bait dari lagu ejekan ini terlontar oleh supporter Malaysia pada gelaran piala AFF 2012 yang berlangsung beberapa waktu lalu. Ribuan Supporter yang akrab disebut Ultras Malaya ini dengan kompak menyanyikan lagu tersebut saat pemain Indonesia sedang berjuang membela Merah Putih. Dari video yang diunggah di You tube itu, dapat terlihat dan terdengar jelas ejekan Ultras kepada Indonesia.

Sebagai bangsa Indonesia yang mencintai tanah air ini, tentu saja saya marah. Namun lagi, saya seolah tak berdaya melampiaskan kemarahan saya. Mungkin, dalam benak saya dan juga mungkin dalam benak masyarakat Indonesia, telah menjadi sebuah mainstream bahwa bangsa ini memang pantas di ejek oleh negeri tetangga itu. Sudah berapa kasus yang menjadi bukti bahwa bangsa ini lemah, bahkan tidak hanya di ejek, melainkan di injak-injak dan diludahi.

Sebagai orang awam yang tidak dapat berbuat apa-apa, saya hanya berdoa, semoga pada pertandingan penyisihan groub B, Indonesia dapat membungkam Malaysia. Namun pada kenyataannya, Tim Garuda tercabik cabik dan kalah dari terkaman Harimau Malaya dengan skor 2-0. Dengan hasil itu, semakin membuktikan bahwa garuda tidak dapat berbuat apa-apa. Kembali tertunduk dan menyimpan malu.

Kasus demi kasus yang membuktikan bahwa garuda tak berdaya menghadapi terkaman harimau Malaya adalah gambaran bahwa lemahnya negeri ini. Kasus TKI yang setiap tahun menjadi sorotan, juga sampai sekarang masih terjadi. Bahkan baru-baru ini, ada peristiwa penjualan TKI yang terkenal disebut 'TKI on Sale' di Malaysia. Bukan hanya itu saja, berapa jiwa TKI kita yang melayang di Malaysia? Berapa korban pemerkosaan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum disana?. Rasanya sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Kasus demi kasus pun terjadi. Selain kasus penghinaan terhadap bangsa ini yang dilakukan oleh Ultras Malaya dan juga kasus yang menimpa saudara-saudara kita para TKI, baru-baru ini terjadi lagi kasus penghinaan yang ditujukan pada mantan pemimpin bangsa. Adalah presiden ke 3 kita, BJ Habibie yang kini menjadi objek ejekan oleh Mantan Menteri Penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin.

Pada rubrik RENCANA di koran Utusan Malaysia edisi Senin, 10 Desember 2012, mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainuddin Maidin menulis dengan judul "Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim". Zainuddin mengawali tulisannya dengan mengatakan 'Presiden Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie yang mencatatkan sejarah sebagai Presiden Indonesia paling tersingkat, tersingkir kerana mengkhianati negaranya, telah menjadi tetamu kehormat kepada Ketua Umum Parti Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim baru-baru ini. Beliau diberikan penghormatan untuk memberi ceramah di Universiti Selangor (Unisel).

Dalam media yang notabene dikontrol langsung pemerintah Malaysia itu, Zainuddin menggambarkan Habibie sebagai sosok egois, memualkan, serta pengkhianat bangsa. Hal ini tentu berbalik 180 derajat dengan kenyataan yang terjadi di Negeri ini. BJ Habibie dikenal sebagai tokoh yang telah berhasil membawa Indonesia menuju gerbang demokrasi yang sebenar-benarnya. Selain itu, ia juga membebaskan para tahanan politik (Tapol) yang telah lama dihianati hak dan kewajibannya oleh penguasa Orde Baru.

Habibie yang dikenal sebagai bapak Tekhnologi Indonesia, tentu bukanlah sesosok penghianat bangsa seperti yang dituduhkan oleh Zainuddin. Ia bahkan dianggap sebagai presiden yang sangat berhasil membawa Indonesia membuka lebar gerbang demokrasi yang awalnya tertutup oleh lembah hitam Orde Baru. Dibawah kepemimpinannya yang walaupun singkat, ia telah menorehkan sebuah sejarah yang tak akan pernah dilupakan oleh bangsa ini.

Tentu penghinaan ini menimbulkan keresahan di negeri ini. Dua Negara serumpun yang telah lama berselisih, kembali memanas. Namun, sekali lagi kita lihat, apakah kali ini garuda berani terbang tinggi mengangkat derajatnya, membusungkan dada dan menerkam kesombongan sang Harimau?. Sepertinya hanya dalam film kolosal yang selama ini menghiasi televise kita.

Lagi, keberanian para pemimpin kita dipertanyakan. Seberapa jauh mereka membawa kasus ini ke ranah hukum internasional. Kasus demi kasus yang terus terjadi, tidak cukup hanya dengan ungkapan prihatin saja. Sudah selayaknya, kasus penghinaan ini di bawa ke meja hijau internasional, demi mengembalikan harkat dan martabat bangsa yang semakin terpuruk ini. Mengembalikan kejayaan bangsa yang telah lama menjadi bahan hinaan Negara lain. Keberanian para pemimpin, menjadi tolak ukur keberhasilan bangsa ini meraih lagi kehormatanya.

Tiada salahnya kita berdoa, semoga kelak garuda akan kembali Berjaya dan kita bangga menyematkannya di dada kita. Amin.


Senin, 03 Desember 2012

Jangan Marah, Gitu aja kok Repot!

Beberapa hari ini, keluarga besar Nahdliyyin di seluruh Indonesia serentak turun ke jalan. Aksi itu dilandasi rasa amarah keluarga besar NU terhadap pernyataan politisi senior yang juga Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana. Sutan yang pada acara diskusi di salah satu stasiun Televisi mengeluarkan pernyataan, bahwa lengsernya Abdurahman Wahid atau Gus Dur karena kasus korupsi Bulogate dan Bruneigate.

Pernyataan itu sontak membuat murka komunitas Gusdurian (pecinta Gus Dur). Selain itu, Organisasi Pemuda Garda Bangsa, Gerakan Pemuda Ansor dan jam'iyah NU adalah orang yang paling merasa marah dan dihina. Mereka beranggapan bahwa menghina Gus Dur sama saja menghina NU. Jika dihubungkan bagai rantai makanan, menghina Gusdur sama saja menghina Nahdliyyin. Sementara menghina Nahdliyyin, sama saja menghina Agama khususnya Islam. Hal ini bukan tidak mungkin muncul, karena sosok Gus Dur yang notabene adalah ulama terkemuka yang titahnya dianut oleh sebagian pengikut organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Penhinaan terhadap agama sudah sering terjadi. Dengan berlindung di bawah ketiak Hak Azazi Manusia terutama hak menyatakap pendapat, setiap orang bebas mengeluarkan pernyataan meskipun kadang pernyataanya tersebut melukai orang lain. Banyak pernyataan Kontroversial meluncur. Saling menghina, mencaci dan menghujat marak terjadi, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Sebelum kasus Penghinaan Gus Dur yang dilakukan Sutan, kasus penghinaan terhadap Agama juga terjadi di Amerika Serikat. Seorang pria California bernama Sam Bacile alias Nakoula Basseley Nakoula menggemparkan dunia dengan memunculkan filmnya yang berjudul “Innocence Of Muslims". Film tersebut menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin sekelompok pria yang haus darah dan juga seseorang yang suka perempuan.

Film ini memicu banyak protes dari masyarakat Muslim di Dunia. Sayang, protes itu dilampiaskan dengan cara yang salah, hingga menimbulkan banyak korban. Demonstrasi besar-besaran di sebagian bumi ini, tidak hanya menimbulkan kerugian harta karena pengrusakan oleh massa, melainkan menimbulkan korban jiwa, diantaranya terjadi di Benghazi, Libia yang menyebabkan tewasnya duta besar Amerika untuk Negara tersebut.

Tokoh lain yang populer karena menghina Nabi Muhammad dan Islam adalah Greetz Wilder dengan film Fitna nya. Tak kalah popular di kalangan umat Islam adalah  Kurt Westergaard, kartunis asal Denmark yang membuat kartun Nabi Muhammad dan juga Salman Rushdi yang menulis novel The Satanic Verses. Semua orang-orang tersebut memancing emosi umat Islam dengan menghina Nabi Muhammad SAW.

Tak perlu marah

Sekali lagi, kedewasaan kita sebagai warga Nahdliyyin diuji. Seberapa besar jiwa kita untuk menghadapi masalah ini, menjadi tolak ukur kedewasaan tersebut. Apakah kita harus marah?. Jika ia, maka marah yang bagaimana, itulah hal yang harus dipikirkan.
Ada pernyataan –yang belum tahu apakah benar atau salah- menyatakan “hanya orang bodoh yang tidak marah jika agamanya di hina” atau “jika ada orang ketika agamanya dihina dan tidak marah, maka dipertanyakan kadar keimanannyan”.

Kadang ada sesuatu yang terbalik dari masyarakat kita. Sebagai umat Islam, kita tidak terima dinyatakan sebagai agama teroris. Namun, kadang apa yang kita lakukan sudah mencerminkan sikap teroris. Teroris disini bukan dalam artian seorang yang dengan tas berisi bom, lalu melakukan bom bunuh diri, melainkan orang atau kelompok yang menimbulkan keresahan dan ketakutan kepada orang lain. Banyak diantara kita umat Islam yang beberapa waktu lalu berdemonstrasi, kemudian merusak fasilitas umum dan juga meneror orang secara membabi buta.

Atau dalam kasus Sutan Bhatoegana yang menghina Gus Dur  yang terjadi saat ini, seperti yang kita lihat, banyak masa turun ke Jalan, membakar ban dan dan spanduk atau foto gambar Sutan. Hal ini selain menimbulkan kemacetan, juga membuat warga sekitar atau pengguna jalan merasa ketakutan. Bukan kali pertama di negeri ini, sebuah demonstrasi berakhir ricuh.
Memang, semut pun akan menggigit jika di sakiti. Sebagai warga Nahdliyyin, kita pantas marah. Namun marah kita harus kita bina dengan baik. Silahkan turu ke jalan, melakukan orasi demonstrasi namun tetap menjaga keamanan dan ketertiban. Aksi damai dan aksi simpatik akan lebih mengena daripada kebrutalan dan anarkis.

Selain itu, kita juga tak harus ngotot marah, karena sudah jelas bahwa ucapan Sutan Bhatoegana adalah omong kosong belaka. Bukti sudah jelas bahwa Gus Dur Lengser dari Presiden bukan karenaisu korupsi seperti yang dituduhkan. Hal ini diperkuat oleh Kejaksaan Agung yang  sudah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan, dan Gus Dur dianggap bersih serta tidak bersalah.

Jika sudah seperti itu, untuk apa kita harus marah secara berlebihan. Biarkan Sutan Bhatoegana atau entah kelak orang lain yang akan menghina Gus Dur. Sekuat apapun hinaan yang mereka lontarkan, tak akan bisa mengalahkan kebaikan dan kebesaran beliau. Biarkan saja mereka menuduh apa tentang Gus Dur, Jika memang Gus Dur tidak bersalah, kenapa kita musti marah dan anarkis?.

Mari kita mencoba merenung kembali dan meneladani Gus Dur. Gus Dur adalah sosok humanis yang anti pada tindakan kekerasan. Selama hidupnya, ia selalu menebarkan kedamaian. Sebagai orang yang begitu mencintai Gus Dur, mari kita terapkan keteladanan beliau. Tebarkan kedamaian dan kebaikan kepada sesama. Mari kita selesaikan masalah ini dengan jalan yang damai dan kekeluargaan, seperti yang biasa Gus Dur contohkan selama hidupnya.

Jika saja hari ini Gus Dur Masih ada di samping kita tentu beliau akan berpesan kepada kita warga Nahdliyyin. “Jangan marah, orang saya yang dihina saja diam kok?”. Ia juga mungkin akan berpesan kepada Sutan “Saudara sutan, kalau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam, gitu aja kok repot?”. Mungkin saja kan?.
                   

Rabu, 07 November 2012

Andai Saya SBY

Di tengah tingginya ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah, muncul kasus baru yang menambah murka rakyat ini. Kasus dimana saya akan mempertimbangkan kembali pencabutan grasi yang telah diberikannya kepada gembong narkoba Meirika Franola alias Ola.

Seperti yang diketahui beberapa waktu lalu, bahwa saya yang dengan kewenangan khusus telah memberikan grasi kepada terpidana mati gembong narkoba Meirika Franola alias Ola. Grasi tersebut saya berikan demi penegakan Hak Asasi Manusia dan juga pertimbangan politik lainnya. Tepat pada 26 September 2011 yang lalu, saya memberikan grasi kepada Ola karena saya menduga ia hanya sebagai kurir. Saya kok sepertinya kasihan dan menganggap hukuman mati yang harus dijalaninya tidak pantas. Dan akhirnya saya memberikan pengampunan, sehingga hukuman mati yang diterimanya menjadi hukuman pidana penjara seumur hidup.

Namun kali ini, Grasi yang saya berikan kepada Ola, bak boomerang yang kembali menyerang saya. Seperti yang diberitakan oleh beberapa media, bahwa  Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap seseorang yang kedapatan membawa sabu-sabu seberat 775 gram di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat pada tanggal 4 Oktober lalu. Pemilik narkoba tersebut, Nur Aisyah mengaku membawa sabu-sabu dari India atas perintah Meirika Franola alias Ola. Padahal, Ola masih berada di rumah tahanan Pondok Bambu.

Kali ini, Saya benar-benar mati kutu. Pemberian grasi kepada gembong narkotika yang awalnya dikecam oleh masyarakat, terbukti salah. Alih-alih memberikan pengampunan agar yang bersangkutan berubah menjadi lebih baik, malah semakin gencar melakukan aksinya. Meski ia sekarang masih meringkuk di dalam sel, namun mampu melakukan bisnis terlarangnya dari balik jeruji besi.

Sebuah Dilema

Saat ini saya sedang pusing tujuh keliling. Problem Kali ini bukan masalah sepele, namun mengenai harga diri dan kehormatan saya sebagai Presiden.  Saya tidak mau dianggap plin-plan dan tidak gentle. Saya juga tidak mau dianggap menjilat lidah sendiri. Saya harus segera  bertindak dan segera mengambil keputusan, meski saya tahu, semua keputusan yang kelak saya ambil mengandung resiko yang berat.

Dulu, saat saya mendengar dari beberapa penasehat saya,  agar memberikan grasi kepada Ola dan beberapa gembong narkotika berpasport asing. Ini saya lakukan, demi kebaikan bersama. Selain hubungan bilateral antara Negara kita dengan Negara para terpidana tersebut, juga demi menegakkan hak asasi manusia.  Dengan pemberian grasi, saya berharap jika ada warga Negara saya yang apabila tersangkut hokum di Negara lain, juga akan diberikan pengampunan yang sama.

Meski pro dan kontra terhadap keputusan saya, pemberian grasi itu tetap saya lakukan. Namun Ola telah mencoreng kebaikan yang saya berikan dengan malu yang sangat. Bukannya berterimakasih dan mencoba memperbaiki dirinya, malah membuat saya murka. Saya menyesal telah memberikan pengampunan kepadanya.

Saya mempertimbangkan untuk mencabut grasi kepada yang bersangkutan. Dan pertimbangan untuk pencabutan itu sangat-sangat besar kemungkinannya saya lakukan. Karena Ola tidak menunjukkan itikad baik untuk berubah. Kasus ditangkapnya Nur Aisyah yang mengaku kurir Ola, membuat saya murka. Dia yang sekarang masih meringkuk dalam penjara, masih juga melakukan kejahatannya.

Namun, mencabut grasi tidak semudah mencabut rumput dari halaman. Belum juga saya mencabut secara resmi grasi terhadap Ola, para pakar dan juga masyarakat sudah mengecam saya. Seolah saya tidak gentle, plin-plan, tidak tegas sebagai seorang pemimpin.  Selain itu, mereka semakin tertawa lebar karena merayakan kemenangannya yang berhasil membuktikan kesalahan saya dalam mengambil keputusan pemberian grasi tersebut.

Saya sangat malu saat ini, namun mengedepankan malu bukanlah hal yang harus saya kedepankan. Saya harus segera meminta maaf kepada rakyat Indonesia bahwa keputusan saya memberikan grasi kepada gembong narkotika kelas dunia telah salah. Dan saya akan mencabut grasi yang telah saya berikan kepada Ola. Saya rasa itu hal yang tepat. Meski banyak orang yang mengatakan bahwa saya plin-plan dan bahkan menciderai proses hokum di Negara ini.

Saya tahu, bahwa jika menaati secara konsekuen dan konsisten, maka langkah saya mencabut grasi adalah hal yang salah. Karena grasi yang telah saya berikan, tidak bisa dicabut lagi. Meski dalam tatanan hukum formal tidak ada larangan pencabutan grasi, pencabutan grasi yang saya lakukan dapat melanggar konvensi dan akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

Banyak pendapat yang sebenarnya dapat saya pertimbangkan, salah satunya dari sahabat saya yang juga pakar hukum tata Negara, Jimly Asshiddiqie. Ia telah memberikan opininya agar saya tidak mencabut grasi saya. Yang harus saya lakukan adalah membuat kasus pidana baru dengan ancaman hukuman baru yang lebih berat lagi. Bahkan katanya, kalau perlu dengan pidana hukuman mati. Sepertinya, saya harus mendengarkan usulan dari sahabat saya itu, karena tak ada hal lain yang dapat saya lakukan.

Selain itu, saya juga akan segera meminta maaf kepada bangsa dan Negara ini karena kesalahan saya. Saya akan mengakui dengan setulus hati, bahwa saya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Kasus ini, akan saya jadikan pelajaran ke depan, agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, termasuk pemberian grasi.

Saya tidak ingin dianggap orang gagal dalam memimpin negeri ini. Masih ada sedikit waktu buat saya untuk memperbaiki semuanya. Sebelum saya harus meninggalkan kursi yang kini saya duduki. Walaupun banyak pihak yang merasa tidak puas dan menganggap saya telah gagal, namun saya tidak akan marah. Karena mungkin itulah kemampuan saya, dan satu hal yang saya yakini, bahwa selama memimpin negeri ini, saya hanya ingin melakukan yang terbaik. Itu saja.

Rabu, 24 Oktober 2012

Jalan Terjal Menuju Tanah Suci

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Qs. al-Hajj/22:78)

 Ayat di atas sepertinya tidak berlaku saat ini. Di musim haji tahun 2012 ini, puluhan ribu umat Islam mengalami kesusahan dan kesempitan untuk menjalankan perintah agama, yakni berangkat ibadah Haji.

Hartati (65), warga Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak ini masih saja mengenakan pakaian Hajinya, meski gagal berangkat ke tanah suci. Hartati adalah salah satu korban betapa bobroknya penyelenggaraan haji di Indonesia. Ia tidaklah sendirian, puluhan ribu calon jemaah haji juga mengalami nasib yang sama dengan Hartati. Tidak hanya gagal berangkat haji, ada juga diantara calon jemaah yang ditipu oleh biro-biro haji “nakal” dengan membawa lari uang mereka.

Hartati masih saja termenung. Sesekali, air mata menetes berlinang membasahi bumi. Dalam dunia khayalnya, saat ini ia bersama ribuan orang yang lain, sedang khusyuk mengikuti segala ritual pelaksanaan Haji di Tanah suci. Tangannya sedang meraba dan mencium Hajar Aswad yang ada di dinding Ka’bah. Sementara matanya, memandang keagungan Tuhan dengan berbagai keindahan kota Makkah dan Madinah serta indahnya peninggalan para Nabi. Namun semua yang telah lama ia impikan itu sirna sudah ketika Hartati tersadar bahwa kenyatannya sekarang ia masih duduk di rumahnya.

Malu dan sedih, mungkin itulah yang dirasakan oleh Hartati dan mereka yang mengalami nasib yang sama. Setelah sekian tahun menabung untuk keberangkatan ke Tanah Suci Mekah, setelah uang terkumpul, namun gagal berangkat. Penantian yang lama menjadi sia-sia. Dan yang paling menyedihkan lagi, uang yang mereka kumpulkan untuk berangkat Haji tersebut,ada juga yang raib dibawa kabur oleh biro haji yang nakal. Astaghfirullah, meminjam istilah Gus Mus, semua itu merupakan penderitaan yang benar-benar sempurna!.

Belum rampung kekecewaan dan kesedihan yang dihadapi, mereka calon haji yang gagal berangkat tersebut juga harus menanggung malu. Malu pasti menghantui, setelah keberangkatannya ke tanah suci, sudah tersebar luas ke seluruh masyarakat penjuru kampung namun pada akhirnya tidak terealisasi.  Ucapan miring dan cemoohan pasti akan keluar dari mulut tetangga yang kurang berempati terhadap mereka. Bias saja, mereka dijuluki Haji “gatot” kepanjangan dari Haji yang gagal total.

Kasus demi kasus dalam pelaksanaan ibadah Haji Indonesia terjadi setiap tahun. Beragam kasus selalu saja muncul di permukaan sesaat atau sebelum ibadah tahunan itu dilaksanakan. Mulai dari kasus penipuan oleh biro travel Haji, penundaan keberangkatan, hingga sarana dan prasarana yang belum memuaskan menjadi PR bagi pemerintah.

Buruknya penanganan kebijakan dan manajemen Haji di Indonesia membuat ribuan orang harus menghapus mimpi menuju tanah suci. Tak jarang dari mereka menjadi stress dan gila karena sudah habis semua barang berharga dijual untuk dana keberangkatan ibadah haji.

Sepertinya, pihak Kementerian Agama yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan haji di Indonesia, belum juga belajar dari berbagai masalah yang selalu dihadapi. Karena setiap tahun, masalah yang muncul hamper sebagian besar sama dengan pelaksanaan haji di tahun yang sudah lalu. Jika mereka mau membuka hati, pasti kejadian serupa tak akan terulang lagi.

Semoga Kementerian Agama terutama Dirjen Haji dan Umrah mau berbenah dan segera menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Penindakan yang tegas terhadap Biro Haji yang tidak amanah harus segera dilakukan. Diberlakukannya sejenis akreditasi kepada Biro Haji adalah hal mutlak untuk meminimalisir penipuan berkedok haji. Selain tindakan eksternal, Dirjen Haji dan Umrah juga harus melakukan pembenahan internal instansi, untuk menghapus praktik korupsi yang sudah berkembang pesat di sana.

Jika hal ini tidak segera dilakukan, maka setiap tahun Instansi ini akan menjadi sorotan dan cemooh banyak orang. Indikasi korupsi yang terjadi sekarang, sudah cukup membuat malu dan gerah umat Islam di Indonesia. Bagaimana tidak, mereka yang ada di Dirjen Haji dan Umrah memiliki embel-embel haji di depan namanya, namun menipu calon haji. Hal yang ironis dan sepertinya sudah terbiasa terjadi di Negara gagal ini. Subhanallah, semoga mereka segera diberikan kesadaran. Amin.






Selasa, 25 September 2012

Mengurai Benang Kusut Generasi Tawur Indonesia

Dunia pendidikan kembali dirundung awan kelabu, setelah terjadi  tawuran antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta di kawasan Bulungan - tak jauh dari Blok M Plaza - pada Senin (24/9/2012). Tak hanya tawuran biasa, kali ini, kembali satu nyawa terbuang sia-sia. Adalah Alawy Yusianto Putra, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena sabetan celurit di dadanya.

Peristiwa ini bukanlah pertama terjadi di kedua SMAN yang notabene adalah SMA favorit di wilayah Jakarta Selatan itu. Sudah berkali-kali, tawur antar kedua Sekolah Menengah Atas tersebut terjadi. Sampai-sampai, mantan Kapolrestro Jakarta Selatan, Kombes Imam Sugiyanto menyebut jalur antara SMAN 70 dan SMA 6 di Jalan Mahakam, Kebayoran Baru itu sebagai “Jalur Gaza”.

Jalur yang identik dengan wilayah rawan konflik  Palestina-Israel di Timur Tengah ini menurut Sugiyanto cocok untuk merepresentasikan bagaimana para siswa tersebut beradu adrenalin. Tentunya kita tidak perlu bangga dengan julukan tersebut. Karena prestasi tersebut bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Tawuran sekelompok massa dengan pelaku manusia-manusia Indonesia sepertinya bisa dikatakan sudah menjadi budaya. Jika dihitung, sudah berapa korban yang menjadi tumbal dari tawuran tersebut. Tidak hanya kalangan remaja (Siswa dan Mahasiswa), masyarakat dan juga kelompok elit pun sepertinya terjangkit syindrom akut tentang budaya rimba ini.

Tentu diantara pelaku tersebut memiliki tujuan dan latar belakang yang berbeda-beda. Secara sosio-psikologis masa remaja merupakan masa  pencarian jati diri sekaligus eksistensinya ingin diakui. Namun sayangnya apa yang mereka persepsikan eksistensi tersebut tidak selamanya bukan merupakan hal-hal yang positif. Sebaliknya justru hal-hal yang negative contoh tawuran yang dilakukan, karena hal yang semacam itu lebih mudah untuk mendapatkan perhatian.

Sementara tawuran yang terjadi di kalangan elit politik, seringkali dilatarbelakangi oleh kepentingan yang menyangkut harga diri. Jika harga diri mereka terusik, maka tawuran adalah solusi untuk menyelesaikannya. Bukan tawuran secara fisik yang dilakukan, melainkan perang-perang kata, perang kebijakan, saling menjatuhkan dan sebagainya.

Tanggung jawab bersama
 Nasi telah menjadi bubur, nyawa telah hilang dari raga. Namun apakah kita akan diam saja dan membiarkan nyawa generasi penerus kita yang lain melayang?. Tentu saja tidak. Cukup sudah!. Semua pihak harus duduk bersama mencari solusi secepat mungkin. Bukan lagi mencari siapa yang bersalah, karena sampai kapanpun tidak akan selesai dengan upaya pengkambinghitaman dari kejadian ini.

Banyak kalangan yang menilai bahwa pihak sekolah yang patut disalahkan, karena tidak mengemban tugas dengan baik. Tentu tuduhan itu tak beralasan. Kadarwati, kepala sekolah SMAN 6 saat diwawancarai salah satu televisi swasta mengatakan bahwa pihak sekolah telah mengeluarkan kemampuan semaksimal mungkin untuk menekan perilaku negative dari siswanya. Bahkan, Kadarwati telah mengeluarkan atau men drop out puluhan siswanya yang telah melakukan pelanggaran berat. Selain itu, puluhan orang tua siswa juga telah mendapat surat teguran dari sekolah terkait kelakuan anak-anaknya.

Tidak hanya sekolah yang bertanggung jawab atas kejadian tragis ini, melainkan seluruh komponen pendidikan. Komponen tersebut meliputi siswa, keluarga, masyarakat, sekolah dan juga pemerintah. Keseluruhan komponen tersebut memiliki andil dalam membentuk karakter siswa. Apabila salah satu komponen tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan terjadi ketimpangan yang menyebabkan terjadinya konflik-konflik serupa.

Banyak solusi yang ditawarkan oleh para pakar pendidikan kita. Namun sebagai orang yang dahulu pernah mengalami kerasnya kehidupan tawuran, maka penulis menawarkan tiga buah solusi. Pertama penegakan hukum yang represif, kedua mengedepankan dialog dengan upaya pendekatan secara psikologis, dan terakhir dengan pemberian fasilitas untuk mereka berekspresi.

Pertama, pemerintah melalui lembaga hukumnya memiliki peran penting dalam menuntaskan kasus tawuran antar siswa ini. Masih adanya tawuran yang terjadi selama ini, dinilai karena hukum belum menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Banyak pelaku kriminal dari kalangan siswa dalam tragedi tawuran masih berlindung aman di bawah ketiak orang tua mereka. Hukum dirasa lemah dalam pemberian punishment kepada pelaku tawuran. Berkedok perlindungan anak, hukum dengan mudah melepas para pelaku kekerasan dalam dunia pendidikan tersebut.

Padahal, jika kita mengingat perkataan Jeremy Bentham (1748-1832), seorang ahli filsafat hukum yang hidup semasa Revolusi Amerika Serikat dan Revolusi Prancis, bahwa hukum memiliki manfaat yang besar dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dalam masyarakat. Hukum juga memiliki cara-cara yang efektif dalam menyelesaikan konflik tersebut sehingga mampu menciptakan kebahagiaan terbesar kepada sebanyak mungkin orang (the greatest happinest for the greatest numbers).

Pemberian hukuman yang setimpal memungkinkan akan menimbulkan efek jera, baik kepada pelaku maupun siswa lain yang rentan melakukan tawuran. Rasa takut pasti akan menghantui, sehingga mereka pasti akan berpikir dua kali untuk ikut beradu otot di jalanan. Mereka pasti tidak mau menjadi seperti teman mereka yang di drop out dari sekolah dan meringkuk di dalam sel tahanan.

Selain tindakan hukum yang represif di atas, langkah kedua yakni upaya pendekatan secara psikologis juga sangat perlu dilakukan. Mengedepankan aspek berdialog kepada mereka adalah hal mutlak untuk mengetahui apa akar permasalahan dari siswa. Baik keluarga, sekolah, masyarakat dan juga pemerintah dirasa kurang mau mendengar apa yang menjadi permasalahan di antara mereka. Yang sering terjadi, vonis tak diinginkan dilayangkan kepada mereka secara langsung, tanpa mau mendengar apa alasan mereka berperilaku seperti itu.

Ketiga, Memberikan fasilitas yang memadai bagi generasi muda itu untuk mengekspresikan dirinya, tentu dengan pengawasan dari berbagai pihak. Tidak menutup kemungkinan, tindak tawuran juga diakibatkan kuranya fasilitas yang memadai bagi mereka untuk berekspresi.

Tiga pendekatan di atas, harus segera dilakukan untuk mengurai permasalahan yang terjadi, sehingga dapat menekan angka tawuran di Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, tidak sepantasnya mereka brutal dan mengedepankan otot dibanding otak. Sudah bukan saatnya lagi kita bangga dengan hal-hal yang negative. Belajar dengan rajin dan melakukan segala hal yang bermanfaat adalah tugas dan tanggungjawab mereka sebagai siswa, generasi penerus bangsa. Karena dipundak mereka, tersemat sebuah harapan akan masa depan bangsa.

Mari kita berusaha untuk menjadi generasi yang berkualitas, karena generasi tersebut, adalah aset bagi bangsa ini di masa yang akan datang. Rubah Hartanas (Hari Tawur Nasional) dengan Harpenas (Hari Prestasi Nasional). Busungkan dadamu, tatap masa depan dengan segudang prestasi yang membanggakan, bukan bangga disebut sebagai generasi tawur. Karena generasi tawur, atau apapun namanya, kalah menang akan jadi abu.

Rabu, 12 September 2012

Pemimpin, Berhati-Hatilah Dalam Berbicara!

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada minggu malam (9/9), dunia kesenian digemparkan oleh pernyataan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Dalam sambutannya pada acara The 14th Merapi And Borobudur Senior’s Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup, Bibit menyatakan bahwa kesenian Jaran Kepang (kuda lumping) adalah kesenian terjelek di dunia. “ Kesenian Jaran Kepang adalah kesenian terjelek di dunia, Walikota Magelang sungguh memalukan, menampilkan kesenian tersebut untuk acara seperti ini” katanya.

Pada acara yang digelar di Borobudur International golf and Country Club tersebut, dihadiri oleh beberapa pejabat penting. Bukan hanya dari pejabat dalam negeri seperti Gamawan Fauzi dan pejabat penting lainnya, melainkan dari perwakilan Negara-negara lain. Pada kesempatan tersebut, kesenian Jaran Kepang dari sanggar Kartika Harapan mendapat kesempatan tampil memberikan hiburan kepada pengunjung acara tersebut.

Namun bukan tepuk tangan dan pujian yang didapat, melainkan “kopi pahit” dari Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Dalam sambutannya, ia menilai bahwa kesenian Kuda Kepang adalah kesenian terjelek sedunia. Dan Walikota Magelang dikatakannya memalukan karena menampilkan kesenian ini. Sontak pernyataan Bibit membuat geram berbagai pegiat kesenian, terutama kesenian Kuda Kepang. Berbagai anggapan pun dilontarkan kepada sang Gubernur. Pagi harinya, sebagian besar media cetak di Jawa Tengah memberitakan kejadian  penuh kontroversi tersebut.

Kurang Arif

Meskipun pada acara Gerakan Nasional Indonesia Membaca pada Senin (10/9) di Semarang, Bibit mengklarifikasi pernyataannya. Bahwa yang dia maksud bukan kesenian Kuda Kepang secara keseluruhan, melainkan khusus kepada sanggar Kartika Harapan yang malam itu tampil. Menurut Bibit, masih banyak kesenian Kuda Kepang yang lebih bagus di Jawa Tengah dari Kartika Harapan yang dinilainya buruk saat tampil waktu itu. “Masa Peralatannya di ikat pakai Rafia begitu?” katanya.

Selain itu, Bibit juga mengatakan bahwa pada kesempatan seperti itu, harus ditampilkan kesenian khas Jawa Tengah dengan sebagus dan semaksimal mungkin. Mengingat Jawa Tengah sedang gencar-gencarnya mempromosikan Visit Jawa Tengah 2013, dan salah satu yang dibanggakan dari Jawa Tengah adalah seni budayanya, sehingga harus digarap secara lebih serius.

Meskipun begitu, nasi telah menjadi bubur. Pernyataan Bibit Waktu itu telah melukai hati para pegiat seni. Hasilnya, para pegiat seni Kuda Kepang dari berbagi daerah melakukan aksi simpatik dengan cara turun ke Jalan. Seperti yang dilakukan oleh Pegiat seni yang tergabung Komunitas 'Ebeg' (kuda kepang) Banyumas, mereka melakukan aksi protes terhadap pernyataan Bibit di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Selain Ebeg Banyumas, kemarin (12/9) Kelompok Jathilan Rukun Agawe Santoso (RAS) Krido Turonggo dari Magelang juga melakukan aksi simpatik di depan kantor Gubernur Jateng di Semarang. Aksi itu diikuti oleh sekitar 50 orang berpakaian lengkap pemain Kuda Kepang. Inti dari aksi tersebut menuntut Bibit meminta maaf kepada masyarakat terutama pegiat kesenian Kuda Kepang atas pernyataannya.

Sebagai seorang pemimpin, rasanya kurang arif jika Bibit mengluarkan pernyataan seperti itu. Apalagi hal itu dilakukan di depan umum. Jika memang kesenian Kuda Kepang yang ditampilkan oleh Kartika Harapan kurang bagus, tetap harus diberikan apresiasi. Karena mereka telah menguri-uri (menjaga) kesenian yang sangat berharga ini sampai sekarang. Jika memang ada yang perlu di perbaiki, maka dibicarakan di belakang layar. Dengan mendatangi mereka dan memberikan motivasi agar kelak lebih baik lagi. Hal itu pasti akan diterima oleh mereka, dan mereka juga merasa diperhatikan dan diayomi oleh pemimpinnya. Pasti mereka akan segera berbenah memperbaiki kesalahan tersebut.

Namun, jika hal itu dilakukan di depan umum, seperti yang telah dilakukan, pasti malu dan marah yang dirasakan oleh mereka para pegiat seni. Mereka yang telah susah payah menjaga kesenian agar tetap lestari, menjadi kecil hati dan merasa tidak dihargai. Akibatnya, mereka akan meninggalkan kesenian itu. Akhirnya, hanya ada dua pilihan yang akan terjadi pada kesenian Indonesia, jika tidak mati, ya di klaim oleh bangsa lain seperti yang sudah-sudah.

Untuk itulah, mari kita mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini. Sebagai pemimpin, selayaknya kita memberikan apresiasi kepada mereka para seniman dan pegiat seni, karena telah menjaga kelestarian budaya Indonesia. Bentuk perhatian tersebut tidak hanya berupa ucapan terima kasih tanpa langkah kongkret, melainkan juga pemenuhan akan fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh mereka. Apabila diperhatikan dengan serius, maka kesenian Indonesia akan menjadi kesenian yang sangat agung dan indah.

Semoga, ini menjadi pernyataan terakhir yang keluar dari para pemimpin kita. Bagaimanapun dan sampaikapanpun, kesenian tradisional Indonesia adalah kesenian terbaik sedunia. Dan kita mesti bangga dengan kesenian itu. Dan dengan rasa bangga, pasti dengan sendirinya, kita akan melestarikan kesenian bangsa ini sampai anak cucu. Kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi?, kalau bukan sekarang melestarikannya, kapan lagi?

Sabtu, 08 September 2012

Berjenis Kelamin Apakah Otak Kita?


Ketika membaca Majalah Tempo edisi 18 Mei 2003, saya menemukan sebuah artikel tentang Ilmu dan Kesehatan. Artikel berjudul “Menguji Jenis Kelamin Otak” ini cukup membuat saya tertarik untuk mengupasnya kembali. Dan saya rasa, artikel tersebut cukup bermanfaat bagi kita yang selama ini terpenjara oleh fisik bernama laki-laki dan perempuan.

Adalah Simon Baron Cohen, seorang Professor dari Universitas Cambridge, Inggris ini menyebutkan bahwa sebenarnya otak manusia itu memiliki “jenis kelamin”. Tidak hanya fisik manusia yang memiliki jenis kelamin, Cohen menyebutkan bahwa otak manusia juga memiliki “jenis kelamin”. Ia membagi jenis kelamin otak manusia menjadi tiga bagian, yakni laki-laki, perempuan dan seimbang.

Otak dikatakan berjenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan sifat mengerti dan membangun system (systemizing, disimbolkan dengan huruf S). Sedangkan pada otak berjenis kelamin perempuan, sifat empatik dan pengertian (empathizing, oleh Cohen disimbolkan dengan huruf E) justru akan lebih dominan.

Selain kedua jenis kelamin otak di atas, Cohen juga beranggapan bahwa akan ada kemungkinan terjadinya keseimbangan antara S dan E pada otak manusia. Kemudian oleh Cohen menyebut jenis ini dengan jenis kelamin seimbang (balanced, disimbolkan dengan huruf B). Dan untuk otak berjenis kelamin B ini, Cohen mewanti-wanti bahwa jangan pernah berharap tipe otak ini akan menghasilkan manusia-manusia banci.

Untuk membuat asumsi dari kebenaran terorinya tersebut, Cohen mencontohkan kepada sosok bernama Margareth Thatcher, salah satu tokoh perempuan perkasa di dunia. Wanita berjuluk Iron Lady ini, adalah seorang Perdana Menteri Inggris era 1979-1990. Dunia pasti masih teringat tentang bagaimana wanita bertangan besi ini memutuskan untuk berperang melawan Argentina hanya karena pertikaian soal Kepulauan Falkland.  Dengan gagah berani, ia mengirimkan puluhan ribu bala tentara untuk menghajar pasukan Argentina yang telah merebut Pulau Falkland selama sepuluh hari.

Hal inilah yang kemudian oleh Cohen dikatakan bahwa otak Thatcher berjenis kelamin laki-laki.  Sikap dan  tindakan Margareth Thatcher inilah yang menyimbolkan bahwa jenis otaknya memiliki unsure dengan kekuatannya yang mengerti dan membangun system yang disimbolkan dengan S,  yakni otak berjenis kelamin laki-laki.

Selama lebih dari sepuluh tahun lamanya, Cohen melakukan riset tentang penelitiannya ini. Untuk mengetahui jenis kelamin otak seseorang, Cohen menciptakan sebuah alat uji psikologis berupa E-test dan S-test. Masing-masing alat uji ini berisi 60 pertanyaan yang memiliki jawaban tertutup. Jawaban tertutup merupakan jawaban yang hanya berisi jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan pada soal penelitian E-test dan S-test ini tidak jauh beda dengan pertanyaan psikologi yang telah masyarakat kenal saat ini.

Pertanyaanya pun sama, misalnya “Saya sangat menikmati saat bersama orang lain”, atau “ Saya tidak pernah melanggar hukum”, dan “Saya selalu menangis saat melihat sinetron sedih”. Hasil dari tes yang dilakukan oleh Cohen ini, akan menentukan seberapa dominan tingkat jenis kelamin otak manusia, apakah E atau S yang lebih dominan.

Dan hasil yang mengejutkan yang merupakan harapan dari kerja keras Cohen adalah, dari 320 mahasiswa di Universitas Cambridge yang dijadikannya objek penelitian, menunjukkan bahwa “Tidak ada hubungannya antara jenis kelamin fisik manusia dengan jenis kelamin otaknya”.  Jadi, bisa jadi orang laki-laki yang dengan badan  gagah, kekar, namun memiliki jenis kelamin otak perempuan.  Sementara orang wanita, memiliki jenis kelamin otak Laki-laki.

Dari puluhan tahun penelitian yang telah Cohen lakukan, kesimpulannya sangatlah sederhana namun sangat berguna terutama bagi kita sendiri dan juga anak-anak kita. Diakhir penelitian ini, Cohen hanya ingin mengatakan kepada manusia, agar memahami diri sendiri dan segala potensi yang ada pada dirinya. Hal ini berkaitan erat dalam upaya untuk menentukan profesi.

Kadang sebagai orang tua, banyak yang menilai profesi anak-anaknya hanya dari jenis kelamin fisik saja. jika perempuan, maka menjadi bidan, atau profesi yang menurut masyarakat layak disandangkan pada perempuan. Sementara laki-laki, ditujukan kepada pekerjaan yang bersifat macho, keras dan memiliki penuh tantangan. Padahal, menurut teori Cohen ini, kita tidak dapat menentukan akan jadi apa kita atau anak  kita, jika hanya melihat dari apa jenis kelamin fisiknya saja. karena sekali lagi, tidak ada kaitannya antara jenis kelamin fisik dan jenis kelamin otak manusia.

Untuk itulah, mari kita mencoba menimang dan mencari siapa jati diri kita. Dengan mengenali diri sendiri, maka kita tidak akan salah dalam menentukan apa profesi yang tepat bagi kita. Karena bagi Cohen “Tak ada yang lebih penting di dunia ini, ketimbang mengenal diri sendiri.”

Sumber, Tempo 18 Mei 2003 hal.93


Minggu, 02 September 2012

Jangan Tanya Kenapa, Karena Ini Cinta !

Engkau mungkin tak percaya jika ia adalah bidadari. Atau bahkan kau menanggapku gila? Terserah kalian. Disadari atau tidak, kalian semua telah diracuni oleh virus bernama positivism, karena memandang semua dari hal yang dapat diterima akal saja. Ini cinta kawan, tak mungkin dapat kau telusuri jejaknya, karena inilah cinta. 

Apakah kalian percaya terhadap apa yang dikatakan Plato, Jhon Locke dan para pemikir lain yang hanya mempercayai akal semata?. Sumpah kawan, berhentilah mengagungkan akal kalian. Saat kalian bertemu dengan cinta, pasti akal kalian tak akan dapat menerimanya.


Ada orang yang nekat mengakhiri hidupnya karena cinta. Ada orang yang menjadi gila karena cinta. Orang menjadi alim karena cinta. Dan bahkan ada orang yang hidup kembali dari kematian karena cinta.


Apakah semua itu dapat diterima oleh akal?. Bagaimana orang yang bunuh diri karena cintanya tak terbalas. Padahal, ia dapat mencari cinta yang lain. Dan anehnya, hidupnya juga enak, tapi kenapa mereka memilih mati. Aokigahara, salah satu tempat di Jepang yang dikenal sebagai surganya para orang putus asa itu, sudah menceritakan padaku tentang betapa banyak nyawa yang melayang hanya karena cinta.


Masih belum percaya juga kau? Baiklah, terserah kalian sajalah. Mungkin waktu yang akan membuat kalian sadar jika cinta itu tak semudah apa yang dipikirkan orang. Ia kompleks, menyangkut banyak hal yang menjadi satu.


Hanya orang yang memiliki cinta, yang dapat memandang semua menjadi indah. Tak peduli segersang apapun tempat yang ia pandang, tetap saja indah. Lihat saja visualnya saat Ikal memandang kuku indah A Ling dalam film Laskar Pelangi. Toko kelontong bobrok milik A Miauw itu berubah menjadi taman bunga, dimana bunga-bunga indah bejatuhan dengan indanya. Itulah gambaran cinta kawan. Dapat kau logika darimana asal bunga-bunga itu?.


Itulah yang saat ini kurasakan, sebuah perasaan aneh tak karuan. Kadang marah, benci, rindu, semua bergejolak dalam jiwa. Dan kesemuanya itu tak dapat kulukiskan dalam kanvas dan kutulis dalam kertas. Semua hanya bisa kurasakan. Jujur saja, aku sendiri bingung dengan apa yang kurasakan saat ini.


Semua karena cinta, begitulah kata Joy Tobing berbicara. Dalam liriknya, ia mengungkapkan betapa hebat dan indahnya cinta itu. Cinta adalah segalanya, yang membuat semua makhluk tetap ada sampai saat ini. Katanya,


“Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini,
Bukan karna kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta...
Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih cinta."

 
Yah,,,semua karena cinta. Adanya alam ini, karena cinta dari Sang Pencipta. Tanpa cinta kita tak mungkin ada. Alam dan seisinya tak akan ada tanpa cinta Tuhan. Kita juga tak akan ada tanpa cinta darinya. Selain itu, cinta antar sesama juga yang membuat kita tetap ada sampai saat ini. Tanpa cinta, kita pasti akan musnah, entah karena pertempuran atau pembunuhan lainnya.


Kawan, aku sedang jatuh cinta. Jangan kau anggap aku gila. Karena sesungguhnya kalian juga akan mejadi gila jika merasakan apa yang saat ini kurasa. Bagaimana tidak, disetiap saat, setiap waktu, dari sekian banyak memory otak yang bekerja, hanya wajahnya yang mampu kupikirkan. Hanya senyumnya yang selalu terngiang. Dan hanya keindahan yang selalu kurasa.


Sekali lagi jangan Tanya kenapa kawan!. Karena ini cinta.  Walau katanya tak ada cinta yang tak berasalan, namun sampai sekarang aku selalu saja bingung dan pusing saat ditanya apa alas an dari semua itu. itu sudah. Jika masih saja kau belum puas dengan keteranganku, coba Tanya saja pada orang yang kini membuat aku menjadi seperti ini. Dialah Putri Tidurku.

Sabtu, 01 September 2012

Nasionalisme Kita Diujung Tanduk


Apa itu Nasionalisme? Seberapa pentingkah ia?. Lalu dengan apa kita membangkitkan rasa Nasionalisme tersebut? Apakah cukup dengan mengikuti upacara peringatan HUT Republik Indonesia, atau menghormati Sang Saka Merah Putih, atau khusyuk menyanyikan lagu Indonesia Raya?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut saat ini memang sudah sepantasnya kembali diperdebatkan. Seiring semakin menipisnya-bahkan jika boleh mengatakan sudah menghilangnya- rasa Nasionalisme dari bangsa ini. Entah karena sudah bosan, atau juga pengaruh dari luar, yang membuat bangsa Indonesia mulai apatis terhadap paham yang luhur ini.

Secara etimologi, Nasionalisme berasal dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna : kesadaran dan semangat cinta tanah air; memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa; memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara; persatuan dan kesatuan. Sedangkan bentuk dari Nasionalisme tersebut juga bermacam-macam. Ada Nasionalisme berdasarkan kewarganegaraan, etnis, budaya dan sebagainya.

Menarik jika kita mencoba membicarakan Nasionalisme dimasa sekarang ini. Ketika paham ini mulai terkikis oleh paham lain seperti kapitalisme. Paham yang selalu mengkultuskan keuntungan dan kekayaan duniawi. Disadari atau tidak, demi kekayaan dan keuntungan, rasa Nasionalisme kita dapat tergadaikan.

Saat saya membaca sebuah artikel di Kompas (29/8/12) berjudul “Nasionalisme Kita”, saya mengerti bahwa rasa Nasionalisme bangsa ini sudah diambang punah. Tulisan seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama  Sri Edi Swasono, menggambarkan betapa bangsa ini mulai kehilangan rasa Nasionalisme. Di awal tulisan itu, Sri mengemukakan pendapat seorang  Doctor di bidang Ekonomi (yang namanya tidak disebutkan) mengatakan bahwa “ Apa itu Nasionalisme, kuno itu, masukin aja ke saku….”. Mengapa Sri gerah, karena Doktor tersebut kini menjabat di bidang yang sangat rentan tentang Nasionalisme di negeri ini.

Doktor itu mungkin menafikkan betapa pentingnya kehadiran Nasionalisme dalam segala bidang. Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam mengatakan bahwa bangsa Vietnam dapat memenangkan perang bukan karena bom Atom, Nuklir atau senjata pembasmi lainnya, namun mereka memiliki Nasionalisme yang tinggi. Katanya “Kami pasti menang perang, karena kami memiliki senjata rahasia. Senjata rahasia itu adalah Nasionalisme”.
Dilain pihak, makna pentingnya Nasionalisme juga dikemukakan oleh Ian Lustic, seorang tokoh politik antar bangsa yang mengatakan bahwa “Nasionalisme merupakan kekuatan pembangunan yang tidak ada tandingannya di dunia masa kini”.

Terkikisnya Nasionalisme, Hancurnya Bangsa
Bangsa ini, meskipun terlahir di tanah air Indonesia, bertumpah darah satu, berbahasa satu, namun bukanlah “pemilik” resmi negeri ini. Bangsa Indonesia tidak bisa To be the master in this own home land, yang artinya kurang lebih menjadi tuan di negeri sendiri. Bangsa ini disadari atau tidak, kini hanya menjadi master of ceremony yang hanya menyambut dan membiarkan “tamu-tamu” dari asing berdatangan serta menghormatinya. Parahnya, “tamu-tamu” itu kini mendominasi seluruh kekayaan yang ada di Negara ini. Namun kita hanya diam.

Contoh kecil hilangnya rasa Nasionalisme kita, kita sering bangga makan di MC Donald, KFC, sementara malas dan sungkan untuk makan makanan tradisional seperti pecel, gado-gado, soto dan lain sebagainya. Kita sering menyesaki mall, plaza dan toko waralaba lain, sementara enggan berbelanja di pasar. Dan kita bangga jika memakai produk-produk impor, dan merasa malu serta tidak percaya diri jika memakai produk dalam negeri.

Menumbuhkan kembali rasa Nasionalisme harus secepatnya dilakukan. Keteladanan adalah faktor utama untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air seluruh rakyat Indonesia. Komponen bangsa yang harus memberikan contoh adalah para aparat negara, baik dari komponen legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Seluruh komponen ini didukung penuh oleh pemimpin bangsanya, mulai dari gaya hidup keseharian, sinkronisasi antara ucapan dan tindakan, berperilaku dalam berbangsa dan bernegara, menjalankan roda pemerintahan yang baik, dan seterusnya.

Dalam hal mencintai tanah air, seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan asing. Saat ini banyak pihak asing yang ingin menguasai harta dan kekayaan Negara melalui system penjajahan yang elegan. Dengan kekuatan ekonomi yang ditunjang dengan kekuatan konsep Kapitalisme yang disebar melalui media yang mapan dan canggih, pihak asing telah merangsak dan merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia kita ini.

Anehnya, bangsa ini seolah terlena dengan penjajahan yang telah dilakukan oleh pihak asing selama bertahun-tahun ini. Mungkin benar apa kata orang Barat, yang menganggap bahwa bangsa kita adalah bangsa terlembek di bumi, kulinya bangsa bangsa lain. Anggapan ini bisa benar, bisa juga salah. Dan sebenarnya, anggapan tersebut tidak pantas diterapkan kepada bangsa ini. Jika kita mencoba menelusuri sejarah, bahwa dengan berapi-api dan semangat Nasionalisme tinggi, Bung Hatta pernah berpidato di depan pengadilan tinggi Den Haag. Saat itu dengan lantang Bung Hatta mengatakan bahwa “Lebih baik Indonesia tenggelam di dasar laut, daripada jadi embel-embel bangsa lain”.

Sungguh ironis, para pahlawan kita yang gagah berani memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing dengan rasa Nasionalisme tinggi, kini menangis melihat kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan sia-sia.  Disadari atau tidak, Nasionalismelah yang telah memerdekakan Indonesia dari penjajahan bersifat fisik pada zaman dahulu. Dan sekarang, yakinlah bahwa di masa penjajahan kaum Kapitalis ini, kita akan dapat memenangkan perang modern ini hanya dengan rasa Nasionalisme yang tinggi.