Jangan Bercerai-Berai Karena Perbedaan

Perbedaan memang tidak mungkin tidak terjadi, selama manusia terus berfikir. Maka perbedaan tersebut dapat menjadi sebuah rahmat, apabila dengan perbedaan tersebut, akan menumbuhkan rasa saling hormat-menghormati dan menghargai. Namun perbedaan akan menjadi adzab, apabila dalam diri kita tertanam sebuah virus bernama fanatic sempit.

Pelajaran Dari Romo Carolus

Charles Patrick Edwards Burrows,OMI adalah nama kecil sang peraih penghargaan tersebut. Ia adalah seorang Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Setelah kedatangannya di Indonesia pada tahun 1973, ia tertarik untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di Kampung Laut Kabupaten Cilacap.

Rintihku

Aku menatap dalam lara Kembali menitikkan air mata Ia tak berdosa Namun aku tega menjatuhkannya Butir putih itu Menghujam deras menghancurkan hidupku Remuk sudah hati menatap cahya Mu Yang terang, namun dihatiku kau gelap Tertutup nafsuku, egoisku, dan dosaku.

Tapak-Tapak Suci, Sebuah Kisah Perjalanan Pemuda Desa

“ Bukalah surat ini ketika kau berada di antara dua pulau, saat kau terombang ambing di tengah lautan, dan saat itu kau akan merasakan betapa aku menyayangimu”..

La Tahzan, Saudaraku!

La Tahzan, Saudaraku. Kecelakaan yang menimpa saudara kita penumpang Shukoi Superjet 100 memang sangatlah tragis. Kita semua bersedih. Namun jangan kita terlarut dalam kesedihan. Yakin bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa telah merencanakan hal dibalik itu semua.

Kamis, 14 September 2017

RASIONALISME RENE DESCARTES DAN KONTRIBUSINYA BAGI PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH



RASIONALISME RENE DESCARTES DAN KONTRIBUSINYA BAGI PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH


Abstrak
Makalah ini ingin mengupas tentang paham rasionalisme yang dicetuskan Rene Descartes. Rasionalisme Rene Descartes merupakan paham yang muncul ditengah kungkungan gereja Kristiani yang dikenal dengan masa skolastik. Paham ini lebih menekankan pada penggunaan akal (rasio) untuk memperoleh sebuah pengetahuan. Tentunya sebagai hasil filsafat, paham rasionalisme sangat berperan penting pada perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan lain seperti Ilmu Dakwah. Ilmu dakwah harus terus mencari jatidirinya agar dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu, dan bukan hanya sebuah ajaran agama. Banyak paham filsafat yang menawarkan metode epistimologis untuk memahami ilmu dakwah, namun dalam makalah ini akan disajikan bagaimana rasionalisme berkontribusi bagi pengembangan ilmu dakwah.

Kata kunci, Filsafat, Rasionalisme, Rene Descartes, Ilmu Dakwah.

A.    PENDAHULUAN
Filsafat merupakan ilmu yang terus mengalami perkembangan. Tercatat, sejak kemunculannya diantara abad keenam dan keempat sebelum masehi, setidaknya filsafat sudah memasuki empat dekade masa pemikiran, yakni filsafat kuno Yunani, filsafat abad pertengahan, filsafat modern dan pencerahan yang dikenal dengan Renaissance serta filsafat kontemporer.
Semua dekade masa pemikiran filsafat tersebut menelurkan tokoh-tokoh penting, salah satunya Rene Descartes (1596-1650). Tokoh penting filsafat periode Renaissance tersebut bahkan disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern. Gelar itu layak diberikan karena Descartes dinilai orang yang pertama di zaman modern yang membangunkan falsafah atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan ‘aqliyyah (akal). Dimana saat itu, dunia berada dalam kungkungan tradisi dan dogma gereja Kristiani yang menyekat perkembangan falsafah pada zaman itu. [1]
Rene Descartes menelurkan sebuah pemikiran filsafat yang dikenal dengan Rasionalisme, dengan jargonnya yang sampai saat ini masih sangat fenomenal ‘Cogito Ergo Sum’ yang artinya ‘Aku Berfikir Maka Aku Ada’. Munculnya Rene Descartes bahkan dianggap mampu mengakhiri krisis di zaman pertengahan dunia Barat yang dikenal dengan dark ages atau jaman kegelapan.
Lalu seperti apa pemikiran  Rasionalisme yang dikeluarkan oleh Rene Descartes dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu dakwah? penulis akan membahasnya dalam makalah ini.

B.     PEMBAHASAN TEORITIK
b.1 Rene Descartes
Rene Descartes lahir di La Haye, sebuah daerah dekat Tours Prancis Barat Laut pada tahun 1596. Pria yang memiliki nama latin Renatus Cartesius itu lahir dari keluarga yang tergolong bangsawan dengan ayah bernama Joachim dan ibu Jeanne Brochard. Ayahnya seorang anggota parlemen British dan ibunya dari keluarga saudagar dan pegawai kerajaan. Namun sejak lahir, Rene kecil sudah ditinggal mati ibunya  karena penyakit tuberculosis. [2]
Descartes mulai mempelajari filsafat dari Kolese yang dipimpin Pater-pater Yesuit di desa La Fleche saat usianya baru menginjak delapan tahun. Di tempat itu, ia diajarkan tentang filsafat Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dari situlah Descartes mulai menyukai filsafat.
Namun, berawal dari kondisi itu Descartes mengalami pemikiran yang berbeda. Dalam bukunya, Discours de la methode (uraian tentang metode) ia melukiskan perkembangan intelektualnya dibidang filsafat yang intinya merasa tidak puas dengan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikanya. Sebab Descartes beranggapan dalam bidang ilmiah, tidak ada satupun yang dianggap pasti, semua masih bisa dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan juga kecuali matematika.[3]
Saat ia mempelajari filsafat, memang saat itu hanya ada dua kecenderungan yakni idialisme Platonian dan Realisme Aristotelian. Tidak ada alternatif pemikiran lain saat itu kecuali dari dua tokoh besar tersebut. Descartes meyakini bahwa kedua tradisi ini mengandung kelemahan, sehingga melahirkan ketidakpastian. Ia mengawali filsafat modern dengan menapaki masalah epistimologis dengan mencoba menemukan fundasi bagi kebenaran ilmu pengetahuan yang absolut dan pasti.
Ia merasa tidak puas khususnya tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak pasti kecuali matematika. Sehingga sering menimbulkan perdebatan. Ia berpendapat, sumber perdebatan itu karena tidak adanya kebenaran mutlak yang menjadi titik tolak yang tidak terbantahkan dalam menyusun ilmu pengetahuan. Metode dialog Plato atau teologis Aristoteles tidaklah mampu menghasilkan fundasi yang kokoh dan terpercaya bagi suatu ilmu yang benar-benar rigorus (ketat). [4]
Descartes kemudian melanglang buana ke berbagai daerah untuk mencari kepastian itu. Ia telah menjelajah berbagai daerah di Eropa Tengah bahkan pernah menjadi tentara sukarela untuk berperang pada perang Eropa Tengah yang meletus saat itu. Ia pernah menetap di Belanda hingga puluhan tahun dan meninggal dunia di Sockhol (Swedia) 16 Februari 1650. Karya Rene Descartes yang fenomenal dan paling penting adalah Discourse on the Method of Rightly Conducting One’s Reason and Seeking the Truth in the Sciences (1637) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641).[5]

B.2 Rasionalisme Rene Descartes
Rasionalisme adalah hasil pemikiran Descartes dalam pengembaraannya mencari kepastian untuk menghindari keragu-raguan. Sesuai dengan hasil pemikirannya itu, Descartes sangat menuhankan rasio (akal budi) sebagai ukuran dan penentu kebenaran. Mudahnya, sesuatu dianggap benar jika rasional.
Rasionalisme adalah istilah yang merujuk kepada beberapa pandangan dan gerakan ide, terutamanya yang merupakan pandangan falsafah ataupun program yang memberi penekanan kepada kuasa akal prapengalaman untuk mencapai intipati kebenaran tentang dunia. Melalui paham ini, Descartes menekankan bahwa akal (reasoning) adalah alat terpenting dalam memperolehi pengetahuan dan menguji pengetahuan, yang akhirnya menyatakan bahwa pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan cara berfikir. [6]
Sebenarnya, pemikiran tentang rasionalisme Descartes ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya pemikiran ini sudah muncul lama sejak zaman Yunani kuno dengan tokohnya semisal Thales (625-545 SM), Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Namun Descartes menjadi terkenal karena ia mampu menghidupkan paham itu ditengah zaman yang masih diselimuti kongkongan tradisi dan dogma gereja Kristian atau yang dikenal dengan masa skolastik. Rasionalisme Deescartes merupakan kritik atas pemikiran skolastik dan mampu membuka belenggu ilmu pengetahuan yang saat itu dibungkam oleh gereja.[7]
Pemikiran-pemikiran Rene Descartes dalam rasionalismenya terbagi dalam dua hal, yakni rasionalisme di bidang teologi dan di bidang falsafah. Di bidang teologi seperti yang dijelaskan di atas, rasionalisme Descartes muncul untuk membebaskan manusia dari kongkongan gereja Kristiani yang tidak menekankan penggunaan akal pikiran. Sementara dalam bidang filsafat, ide itu muncul untuk membahas tentang sumber-sumber pengetahuan.
Rasionalisme Descartes muncul dari metode yang digunakannya dalam memahami ilmu pengetahuan, yakni metode keragu-raguan atau kesangsian. Lewat metodenya ini, ia ingin menemukan sebuah pondasi yang kokoh dan tak tergoyahkan untuk menjadi dasar bagi pemikiran filosofis dan pengetahuan lainnya. Ia memulai segala hal dengan kesangsian atas sesuatu yang bersifat material, misalnya tentang tubuh yang diragukan oleh Descartes apakah nyata atau tidak. Dengan metodenya itu, ia sangat tidak percaya pada hasil penglihatan yang belakangan dikenal dengan paham empirisme. Menurutnya, indera kerap kali menipu dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam metode kesangsian ini, semakin ia meragukan sesuatu, justru ia sadar bahwa ia semakin ada. Descartes beranggapan, justru kesangsian inilah yang menunjukkan bahwa manusia itu nyata.  Kesangsian adalah buah pikir manusia, semakin seseorang meragukan sesuatu maka semakin ia masuk dalam aktivitas berpikir dan membuatnya semakin sadar. Karena itulah ia menemukan dirinya ‘Ada yang Berpikir’ yang kemudian dikenal dengan Aku Berpikir Maka Aku Ada. Descartes menyimpulkan bahwa saya/subjek rasional/pribadi adalah suatu substansi yang seluruh esensi dan kodratnya hanyalah berpikir dan untuk keberadaannya tidak memerlukan ruang sedikitpun dan tidak bergantung pada benda materi apapun.[8]
Prinsip metodologis yang digunakan Descartes untuk menjamin kebenaran dan kepastian terdiri dari empat aturan, yakni;
1.      Jangan menerima apapun sebagai hal yang benar kecuali jika saya (kita) mengenalnya secara jelas dan terpilah (clear and distinct) berdasarkan rasio (hindari ketergesa-gesaan) kita hanya menerima kebenaran yang pasti seperti dalam matematika
2.      Harus menganalisis (mengurai bagian-bagian) sekecil mungkin agar dapat memecahkan masalah lebih mudah dan lebih baik
3.      Menata masalah dari yang paling sederhana dan mudah dimengerti kemudian maju sedikit demi sedikit ke tingkat yang lebih kompleks dan sulit
4.      Merinci keseluruhan dan mengevaluasi kembali secara umum sampai kita yakin bahwa kesimpulan yang kita ambil tidak mengabaikan satu hal masalahpun.[9]
Sementara untuk mencari kebenaran itu, Descartes mengatakan ada ide-ide bawaan pada diri manusia yang  paling fundamental, yakni merujuk kepada prinsip Cogito ergo sum.  Tiga ide bawaan itu diantaranya pemikiran, Allah dan keluasan.
1.      Pemikiran. Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya
2.       Allah sebagai wujud yang sama sekali sempurna. Karena saya mempunyai ide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempurna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain dari pada Allah.
3.      Keluasan. Materi sebagai keluasan atau eksestensi sebagaimana hal itu di lukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.[10]
Tiga ide tersebut yang dikenal dengan ide-ide yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinct). Maknanya, suatu hal yang tidak dapat dipikirkan tanpa mempercayai kebenarannya. Dengan kata lain, ia tidak dapat diragukan, ia tak dapat dibendung. Ide semacam itu dapat ditemukan yang paling jelas dalam proporsi-proporsi sederahana matematika dan geometris.[11] 

C.    KONTRIBUSI RASIONALISME BAGI PERKEMBANGAN ILMU DAKWAH
Hampir semua ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh filsafat. Setiap disiplin ilmu pengetahuan memiliki filsafatnya masing-masing. Hal ini juga berlaku pada Ilmu Dakwah. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, ilmu dakwah harus dimulai dari perumusan teoritikal tentang filsafatnya yang oleh Ilyas Ismail disebut dengan filsafat dakwah, sebagai landasan teori dan metodologi dakwah. [12]
Ilmu dakwah sendiri didefinisikan oleh Machfoeld sebagai ilmu yang mempelajari soal-soal panggilan kembali ke jalan Allah atau yang meninggalkannya atau yang telah berdiri di sana namun baru hanya dengan satu kaki, lengkap dengan mempelajari soal-soal pemecahana permasalahannya. [13] Sementara Djalaludin Rahmat mendefinisikan ilmu dakwah sebagai ilmu yang mempelajari proses penerimaan, pengolahan dan penyampaian ajaran Islam untuk mengubah perilaku individu, kelompok dan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam.[14] Amrullah Achmad memberi pengertian ilmu dakwah adalah sebagai kumpulan pengetahuan yang bersumber dari Allah dan dikembangkan umat Islam dalam susunan yang sistematis dan terorganisir mengenai manhaj melaksanakan kewajiban dakwah bertujuan beriktiar mewujudkan khoiru ummah (umat terbaik).
Sesuai dengan ilmu-ilmu lainnya, ilmu dakwah bisa dikatakan sebagai sebuah ilmu jika memenuhi tiga landasan, yakni Ontologis, Epistimologis dan Aksiologis. Untuk memenuhi tiga landasan itu, peran filsafat sangatlah besar. Dari ketiga landasan itu, komponen Epistimologis adalah hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Sebab, diantara ketiga landasan tersebut, yang banyak terjadi perdebatan dan berbagai paham filsafat muncul adalah mengenai epistimologi sebuah ilmu karena menyangkut - jika meminjam pernyataan Kattsoff – terkait sah tidaknya ilmu-ilmu pengetahuan.
Ilyas Supena dalam bukunya Pergeseran Paradigmatik Epistimologi Ilmu-Ilmu Keislaman menyimpulkan bahwa epistimologi adalah teori dan sistem pengetahuan yang berhubungan dengan the nature (hakikat), scope of knowledge (ruang lingkup pengetahuan), the origin (asal mula), the possibility (kemungkinan pengetahuan), suourches of knowledge (sumber-sumber pengetahuan), asumsi dasar dan reabilitas serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan. [15]
Berdasarkan sumber pengetahuan, terdapat dua pandangan besar dalam epistimologi Barat, yakni Rasionalis dan Empirisme. Kaum rasionalis dengan salah satu tokohnya yang dibahas dalam makalah ini yakni Descartes menganggap bahwa rasio atau akal merupakan salah satu sumber pengetahuan yang sangat potensial yang dimiliki manusia bahkan dapat dikatakan bahwa akal merupakan karakteristik khas yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Rasio dipandang sebagai sarana memperoleh pengetahuan.[16]
Meski banyak yang menyatakan bahwa epistimologis ilmu dakwah adalah gabungan dari akal (rasionalisme), panca indera (empirisme) dan satu lagi yang ditambahkan Al-Ghazali dengan konsep wahyu dan ilham, namun pengaruh rasionalisme sangat berperan dalam pemikiran islam, khususnya tentang ilmu dakwah.
Pengaruh Rasionalisme ala Descartes ini sangat didukung oleh Al-Quran sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dalam Islam disamping hadist. Al-Quran merupakan kitab suci yang sangat menghormati budaya rasionalitas ilmiah dan menolak segala bentuk khurafat (mitos). Akal (rasio) dalam Islam sangat memberikan kedudukan yang istimewa. Dengan akal, manusia dapat mencapai peradaban dan kebudayaan yang sangat tinggi dan dengan akal pula ia dapat mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Bahkan Allah sendiri seringkali memerintahkan manusia dalam Al-Quran untuk menggunakan akal, termasuk dalam menggunakan Al-Quran itu sendiri. Bahkan Allah sangat membenci orang-orang yang tidak menggunakan akalnya sebagaimana disampaikan dalam Surat Yunus ayat 100. Selain itu, dalam beberapa ayat Al-Quran Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya untuk berfikir.[17]
Dalam ilmu-ilmu keislaman, konsep rasionalisme dikenal dengan sebutan metode atau konstrksi pemikiran Burhani. Sistem Burhani adalah menggunakan prinsip-prinsip dasar logika (al-mantiq) yang meyakinkan, yang kemudian diteliti kesimpulan-kesimpulannya atau inferensi yang secara pasti lahir dari prinsip tersebut. Dalam konstruksi pemikiran Burhani, ia bersumber pada realitas atau al-Waqi baik realitas alam, sosial, humanitas atau keagamaan. Ilmu yang muncul dalam tradisi Burhani disebut sebagai al-‘ilm al hushuli, yakni ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematisasikan lewat premis-premis logika atau al mantiq, bukan melalui otoritas teks seperti konstruksi Bayani atau pengalaman langsung dalam konstruksi Irfani.[18]
Lalu bagaimana keterkaitan langsung antara rasionalisme dengan perkembangan ilmu dakwah?. Dijelaskan Muhammad Abduh, salah satu tokoh filsafat muslim ternama, bahwa islam adalah agama yang rasional, agama yang sejalan dengan akal bahkan ajaran agama yang didasarkan atas akal. Semua ajaran-ajaran Islam baik tentang akidah, akhlak maupun tasawuf adalah ajaran yang sangat rasional dan dapat diakal.[19]
Dari pandangan itu, Abduh sangat menolak taqlid  dan menerima penafsiran (ta’wil) berdasarkan asal ketimbang menerima terjemahan literal mengenai sumber-sumber agama. Abduh melalui pandangannya itu mengajak umat Islam untuk melakukan ta’wil terhadap nash-nash Al-Qur'an yang tidak bisa kita pahami. Ia juga menegaskan lewat buku-bukunya agar memisahkan pemahaman tentang eksistensi dan karakter ajaran agama yang seutuhnya dengan hasil pemikiran orang-orang yang hanya mengaku dirinya sebagai agamawan.
Jika ditarik garis besar dalam ilmu dakwah, paham rasionalisme atau konsep Burhani ini memiliki kontribusi cukup besar bagi pengembangan ilmu dakwah. Tanpa mengesampingkan paham-paham lain, namun rasionalisme atau burhani ini sangat tepat diterapkan dalam ilmu dakwah.
Pernyataan ini berdasarkan alasan, bahwa sumber ilmu dakwah yakni Al-Quran dan Hadis membutuhkan penalaran untuk menemukan eksistensi kebenarannya. Apalagi dalam dua sumber itu, tidak bisa didapat sentuhan-sentuhan teoritis yang merupakan benih keilmuan dakwah. Bagaimana menyampaikan ajaran agama yang bersifat keilahian kepada manusia. Bagaimana bahasa Al-Quran dan Hadis yang menggunakan bahasa langit, disampaikan kepada masyarakat sesuai dengan fungsi dan tujuannya, jelas membutuhkan sebuah penalaran dan pemahaman menggunakan rasio atau akal. Pemikiran rasional itu tentunya digunakan untuk menjadikan dakwah agar mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat. Karena objek material ilmu dakwah adalah semua aspek ajaran Islam (dalam al-Qur’an dan al-Sunnah), sejarah dan peradaban Islam (hasil ijtihad dan realisasinya dalam sistem pengetahuan, teknologi, sosial, hukum, ekonomi,pendidikan dan kemasyarakatan lainnya khususnya kelembagaan Islam) bukan hal yang teoritis.[20]
Sementara dalam hal perkembangan aktivitas dakwah, filsafat Rasionalisme Descartes sangatlah diperlukan. Hal ini digunakan untuk mengetahui hakikat Dakwah itu sendiri yang telah dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 165, yakni Dakwah, Sabili Rabbika, Al-Hikmah, Al-Mauidzhatul Hasanah, Allati Hiya Ahsan, Man Dzalla an Sabilihi dan Al Muhtadun.[21] Rasionalisme sangat penting untuk mengetahui esensi dakwah dari unsur-unsur tersebut.

D.    KESIMPULAN
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan filsafat di dunia Barat sejak awal kemunculannya hingga saat ini setidaknya mengalami empat periode, yakni filsafat kuno Yunani, filsafat abad pertengahan, filsafat modern dan pencerahan yang dikenal dengan Renaissance serta filsafat kontemporer.
Salah satu tokoh yang terkenal pada massa filsafat modern dan pencerahan yang dikenal dengan Renaissance adalah Rene Descartes. Filsuf yang dijuluki bapak filsafat modern ini menelurkan sebuah karya filsafat yang dikenal dengan rasionalisme. Rasionalisme adalah hasil pemikiran Descartes dalam pengembaraannya mencari kepastian untuk menghindari keragu-raguan. Sesuai dengan hasil pemikirannya itu, Descartes sangat menuhankan rasio (akal budi) sebagai ukuran dan penentu kebenaran. Mudahnya, sesuatu dianggap benar jika rasional.
Rasionalisme Descartes ternyata memiliki pengaruh dalam perkembangan ilmu dakwah. Teori ini dianut oleh salah satu filsuf Islam ternama yakni Muhammad Abduh dengan konsep bernama Burhani dalam penerapan keilmuan Islam. Dalam konteks ilmu dakwah, rasionalisme Descartes sangat penting untuk memahami epistimologi ilmu dakwah serta digunakan untuk memahami keilmuan dakwah yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist. Apalagi dalam dua sumber itu, tidak bisa didapat sentuhan-sentuhan teoritis yang merupakan benih keilmuan dakwah dan sangat membutuhkan pemikiran mendalam. Dengan rasionalisme, salah satu yang dihasilkan adalah dakwah sebagai ilmu, bukan hanya ajaran agama semata.

E.     PENUTUP
Demikian makalah ini penulis susun. Penulis sadar, bahwa pasti terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Saran dan ide yang konstruktif sangat penulis harapkan. Semoga, kita semua menjadi manusia-manusia yang terus berpikir untuk kebaikan umat.

Daftar pustaka
Abbas, Nurlaela, Muhammad Abduh :Konsep Rasionalisme Dalam Islam. Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 15, No. 1, Juni 2014.
Bertens, K.1975. Ringkasan Sejarah Filsafat.Yogyakarta;Kanisius.
Descartes, Rene. 1995.Risalah tentang metode (terj.Ida Sundari Husen dan Rahayu s Hidayat, Jakarta;Gramedia.
Ismail, Ilyas.2002. Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam.Jakarta;Kencana.
Khotimah, Khusnul, Epistomologi ilmu Dakwah Kontemporer, Jurnal KOMUNIKA, Vol. 10, No. 1, Januari - Juni 2016.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Machfoeld.1975.Filsafat Dakwah, Ilmu Dakwah dan Penerapannya. Jakarta;Bulan Bintang.
Supena, Ilyas.2015. Pergeseran Paradigmatik Epistimologi Ilmu-Ilmu Keislaman. Semarang;Karya Abadi Jaya.
Susanto. 2011.Filsafat Ilmu, Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis Dan Aksiologis,Jakarta;Bumi Aksara.
Solomon, Robert C, Kathleen M Higgins. 2000. Sejarah Filsafat, Jogjakarta:Bentang Budaya.
Tafsir, Ahmad.1997. Filsafat Umum. Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yaacob, Solehah, Rene Descartes (1596-1650) Dan Metode Cogito. Jurnal Usuludin Bil.27.2008.


[1] Solehah Hj. Yaacob, Rene Descartes (1596-1650) Dan Metode Cogito. Jurnal Usuludin Bil.27.2008.h.121.
[2] Ibid.h.126.
[3] K Bertens.1975. Ringkasan Sejarah Filsafat.Yogyakarta;Kanisius.h.45.
[4] Akhyar Yusuf Lubis. 2014. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada.h.95.
[5] Solehah Hj. Yaacob.Lok.Cit. h.135
[6] Ahmad Tafsir.1997. Filsafat Umum. Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 111.
[8] Rene Descartes. 1995.Risalah tentang metode (terj.Ida Sundari Husen dan Rahayu s Hidayat, Jakarta;Gramedia.h.34.
[9] Susanto. 2011.Filsafat Ilmu, Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis Dan Aksiologis,Jakarta;Bumi Aksara.h.99.
[10] Ibid. h.100.
[11] Robert C Solomon, Kathleen M Higgins. 2000. Sejarah Filsafat,Jogjakarta:Bentang Budaya.h.363.
[12] Ilyas Ismail.2002. Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam.Jakarta;Kencana.h.vii.
[13] Machfoeld.1975.Filsafat Dakwah, Ilmu Dakwah dan Penerapannya. Jakarta;Bulan Bintang.h.34.
[14] Suisyanto,2006. Pengantar Filsafat Dakwah. Yogyakarta: Teras. h. 68
[15] Ilyas Supena.2015. Pergeseran Paradigmatik Epistimologi Ilmu-Ilmu Keislaman.Semarang;Karya Abadi Jaya.h.28.
[16] Ibid h.41.
[17] Ilyas Supena. Ibid h.45.
[18] Ilyas Supena. Ibid h.83.
[19] Nurlaela Abbas, Muhammad Abduh :Konsep Rasionalisme Dalam Islam. Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 15, No. 1, Juni 2014.
[20] Khusnul Khotimah, Epistomologi ilmu Dakwah Kontemporer, Jurnal KOMUNIKA, Vol. 10, No. 1, Januari - Juni 2016.
[21] Machfoeld. Ibid.h.31.

STRATEGI DAKWAH PADA MASYARAKAT PENGANUT TAREKAT RIFA’IYAH KALISALAK KABUPATEN BATANG


Abstrak
Islam di Indonesia tidak hanya menjadi agama yang mengatur mengenai tata cara kehidupan masyarakat. Namun, Islam juga menjadi sebuah alat yang digunakan untuk melakukan berbagai gerakan. Salah satunya adalah gerakan Tarekat Rifa’iyah yang dipelopori oleh KH Ahmad Rifa’i. Gerakan ini muncul akibat pengaruh politik saat itu, dimana Indonesia masih dalam masa penjajahan oleh Kolonial Belanda. Tarekat Rifaiyah menjadi salah satu gerakan Islam saat itu yang intens menyuarakan perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan penjajahan Kolonial Belanda.  Banyak ajarannya yang berisi kebencian kepada pemerintahan Belanda dan kaki tangannya. Namun, hingga saat ini ajaran itu masih dilakukan sehingga diperlukan strategi dakwah untuk meluruskannya agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman agama Islam.

Kata kunci; Islam, Budaya Lokal, Tarekat Rifaiyah, Strategi Dakwah Tarekat Rifaiyah

Pendahuluan
Perjuangan kalangan pribumi melawan penjajahan Kolonial Belanda tidak bisa dilepaskan pada sejarah Indonesia. Sepanjang abad 19 hingga awal abad 20, gejolak atau protes sosial yang dilakukan kalangan masyarakat pribumi meledak. Secara silih berganti, gerakan-gerakan perlawanan tersebut cukup mendapat perhatian pemerintah saat itu.[1]
Bermacam gerakan perlawanan tersebut muncul karena sistem kolonial Belanda dibantu para birokratnya memberlakukan kebijakan yang merugikan rakyat. Saat itu, sistem yang sangat terkenal dan sampai saat ini membekas adalah sistem tanam paksa atau kerja rodi.
Berbagai gerakan sosial dari kalangan pribumi tersebut dipelopori oleh para ulama. Salah satunya adalah KH Ahmad Rifai, seorang tokoh yang menjadi pemimpin perlawanan rakyat terhadap pemerintah Kolonial Belanda di Kalisalak Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Jawa Tengah. Melalui gerakan ajaran agama, KH Ahmad Rifai menanamkan ide perlawanannya kepada para pengikutnya yang saat ini dikenal dengan sebutan penganut Rifai’yah.

Awal Mula Munculnya Gerakan Rifa’iyah
Berbicara gerakan Rifa’iyah tidak dapat melepaskan tokoh utama pendirinya yakni KH Ahmad Rifa’i. Dari sejumlah literatur menyebutkan, KH Ahmad Rifai dilahirkan pada tahun 1786 di Desa Tempuran yang terletak di sebelah selatan Masjid Besar Kendal. Ayahnya bernama Marhum bin Sujak Wijaya dan ibunya Siti Rahmah. [2] Ahmad Rifai sudah ditinggal ayahnya sejak usianya tujuh tahun dan diasuh oleh pamannnya bernama KH Asy’ari, pengasuh pondok pesantren Kaliwungu. [3]
Awal mula KH Ahmad Rifa’i membantuk sebuah aliran keagamaan saat dirinya pulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 1841. Saat itu, ia memilih tinggal di desa terpencil bernama Kalisalak Kecamatan Limpung Kabupaten Batang yang saat itu masih hutan belantara, dibanding kembali pulang di rumahnya daerah Kendal yang saat itu sudah termasuk kota besar. Pemilihan lokasi di Kalisalak ini menurut beberapa penelitian dikarenakan ia ingin mengasingkan diri dari pemerintahan Belanda saat itu. Selain itu, tak sedikit pula yang menyatakan bahwa kepindahananya ke Kalisalak Batang karena ia menikahi janda dari Demang Kalisalak.[4]
Di wilayah inilah ia membangun sebuah komunitas keagamaan dan mulai mengajarkan agama kepada pengikutnya.  Ia kemudian mendirikan sebuah pondok pesantren bernama pesantren Kalisalak yang masih ada sampai saat ini. Para pengikut gerakan keagamaan Rifa’iyah banyak mengamalkan ajaran KH Ahmad Rifa’i yang ditulis dalam kitab-kitab Tarojumah. Oleh karena itu, para penganut kelompok keagamaan ini sering disebut santri Tarojumah.
Sesuai dengan keberadaan dirinya sekarang dan situasi zaman yang menyertainya, yaitu kolonialisme Belanda, telah menuntut perhatian darinya. Di samping mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang telah didalaminya, ia pun mengobarkan semangat penentangan terhadap kolonilisme Belanda. Ia banyak melakukan protes terhadap Belanda dan pejabat-pejabat yang diangkatnya. Karena dipandang mengganggu kerja pemerintah akhirnya dia diasingkan ke Ambon pada tahun 1859 dan meninggal di pengasingan pada tahun 1870. [5]
Sepeninggal KH Ahmad Rifa’i, ajaran Rifa’iyah masih ada dan masih eksis sampai saat ini. Ajaran ini tersebar di berbagai daerah seperti Batang, Pekalongan, Kendal, Pati, Wonosobo, Jawa Barat bahkan Jakarta.[6]

Ajaran Perlawanan Tarekat Rifa’iyah
Perkembangan Tarekat Rifa’iyah bermula pada abad ke-19. Saat itu, Indonesia masih dijajah oleh pemerintahan Hindia Belanda. Gerakan Rifa’iyah merupakan salah satu gerakan keagamaan yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda.
Sang pendiri gerakan ini, yakni KH Ahmad Rifa’i mengajarkan kepada santri-santrinya untuk membenci pemerintahan Hindia Belanda. Melalui kitab-kitab Tarojumah (terjemaahan dari kitab berbahasa Arab, mayoritas adalah kitab-kitab Imam Syafi’i) yang ia buat, KH Ahmad Rifa’i menyisipkan berbagai muatan agama yang didalamnya sebagai dasar gerakan untuk membenci pemerintahan Hindia Belanda dan para anteknya yakni pribumi yang bekerja  kepada pemerintahan. [7]
Gerakan-gerakan keagamaan tentang perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda dan antek-anteknya itu ia tulis dalam beberapa kitab berbentuk syair dengan muatan ajaran islam seperti akidah, syariah dan tasawuf. Tidak ada yang dapat memastikan berapa jumlah kitab hasil karya KH Ahmad Rifa’i. Sebab saat itu, gerakan Rifa’iyah dianggap sebagai gerakan provokator dan mengancam pemerintahan Hindia Belanda. Sehingga, beberapa karya KH Ahmad Rifa’i disita oleh Belanda. Namun Ahmad Syadzirin Amin mengatakan ada sekitar 63 karya KH Ahmad Rifa’i semasa hidupnya.[8]
Beberapa yang berhasil dilacak seperti Syarih al-Iman (mengajarkan tentang keimanan), Ri’ayah al-Himmah (mengajarkan tiga masalah dalam Islam yakni Ushul, Fiqh dan Tasawuf), Bayan (mengajarkan ketentuan orang menjadi guru), Tasyriha al-Muhtaj (mengajarkan fiqh Muamalah), Nazham Tasfiyah (mengajarkan tentang keabsahan shalat), Abyan al-Hawaij (membicarakan tentang Ushul Fiqh dan Tasawuf), Asnal Miqsad (membicarakan Ushul, Fiqh dan Tasawuf) dan tabyin al-Islah (membicarakan masalah perkawinan).[9]
Namun dari keseluruhan kitab itu, hampir semuanya digunakan oleh KH Ahmad Rifa’i untuk menanamkan kebencian pengikutnya kepada pemerintah Kolonial Belanda dan para antek-anteknya, yakni kaum pribumi yang mengabdikan hidupnya kepada pemerintahan Belanda. Seperti kitab Syarih al-Iman yang membicarakan tentang keimanan, di dalamnya lebih memfokuskan pada penuturan mengenai orang-orang kafir dan nasibnya serta penekanan agar orang Islam menjauhinya. Dalam konteks dahulu, orang kafir yang dimaksud adalah pemerintah Kolonial Belanda dan para anteknya.
Pemikiran-pemikiran KH Ahmad Rifa’i terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni Ushuluddin, Fiqh dan Tasawuf.  Ketiganya dibahas secara lengkap melaui kitab-kitabnya yakni Tarojumah. Dalam ilmu Ushuluddin, KH Ahmad Rifa’i mengajarkan bidang ilmu keislaman yang berkaitan dengan masalah-masalah pokok agama Islam. Hal ini ia terangkan dalam kitabnya yang berbunyi;
Utawi ilmu Ushuluddin pertelane
Yaiku ngaweruhi bab iman tinemune
Lan barang kang ta'alluq ing iya wicarane
Lan ngawa.ru.hi ing Allah kewajibane
Lan muhale Ian jaize kinaweruhan
Lan kaya mangkono ngaweruhi kawajibane
Hake para rusul muhale Ian kawenangane
Iku nyata null aja kataq sirari[10]

Artinya; Adapun ilmu ushuluddin penjelasannya
Yaitu mengetahui bab iman jadinya
Dan hal-hal yang berkaitan pembicaraannya
Dan mengetahui Allah kewajibannya
Dan muhal Allah dan jaiz-Nya diketahui
Dan juga mengetahui kewajibannya
Haknya para rasul muhal-nya dan kebolehannya
Itu nyata kemudian jangan sampai kekurangan

Dalam pandangan Ahmad Rifa’i, ilmu Ushuluddin merupkan pondasi seseorang perihal pelaksanaan ibadah dan hubungan antar sesama yakni hubungan Muamalah. Selain itu, dalam ajaran tentang ilmu Ushuluddin, Ahmad Rifa’i juga menguraikan tentang rukun iman, syariatnya dan perusaknya, serta yang lainnya. Rifai menganggap bahwa Ushuluddin adalah ilmu yang menjadi dasar pokok ajaran agama. Ia juga menerangkan perihal sifat-sifat Allah dan para RasulNya.[11]
Dalam ilmu Fiqh, Ahmad Rifa’i dengan tegas menyatakan bahwa ia adalah penganut Mazhab Syafi’i. Dalam beberapa karyanya seperti Ri’ayah al-Himmah, KH Ahmad Rifa’i menyatakannya sebagai berikut;
Ikilah bab nyataaken tinemune
Ing dalam ilmu ftgih ibadah wicarane
Atas mazhab Imam Syafi'i panutane
AM Mujtahid mutlak kadrajatane

Artinya: Inilah bab menyatakan jadinya
Di dalam pembicaraan mengenai ilmu fiqh ibadah
Berdasarkan madzhab Syafi'i panutannya
Ahli mujtahid mutlak derajatnya

Dalam pembahasan ilmu Fiqh tersebut, KH Ahmad Rifa’i menekankan pada dasar-dasar hukum Islam, seperti mengenai rukun dan syarat pelaksanaan ibadah sehari-hari, hingga mengenai hubungan antar manusia seperti jual beli, hutang piutang, hukum waris, pernikahan dan persoalan fiqh lainnya.
            Sementara terkait ilmu Tasawuf, KH Ahmad Rifa’i mengajarkan tentang bagaimana akhlak manusia yang terpuji dan tercela untuk memperoleh ridho dari Allah. Melalui salah satunya dalam kitab Ri’ayat al Himmah, Ahmad Rifa’i menjelaskan tentang ilmu Tasawuf yang berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat tercela (madzmumah) yang ada pada diri manusia serta bagaimana mengajarkan tentang penyerahan diri kepada Allah. Dalam ajaran Tasawuf ini, ajaran Ahmad Rifa’i lebih menekankan pada pembinaan akhlak dengan mengajak pengikutnya melakukan akhlak yang terpuji dan meninggalkan akhlak tercela.
Diantara ajaran-ajaran itu, terdapat beberapa ajaran yang menimbulkan kontroversi saat itu, seperti rukun islam, shalat Jumat dan masalah pernikahan. Selebihnya, sebenarnya ajaran KH Ahmad Rifa’i banyak yang sama dengan Imam Syafii dengan ajarannya yang dikenal ahlusunnah wal jamaah. [12]
Tiga hal kontroversi inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Pertama terkait rukun Islam satu yakni membaca dua kalimat syahadat, KH Rifa’iyah menulisnya dalam kitabnya Riayah al Himmah seperti dibawah ini;
Rukune Islam sawiji kinaweruhan
Yaiku ngucap syahadat loro ing lisan

artinya; Rukunnya Islam satu diketahui
Yaitu membaca syahadat dua di lisan.

Pernyataan KH Ahmad Rifa’i itu sebenarnya dimaksudkan sebagai  penegasan, bahwa kalimat syahadat itulah yang merupakan prasyarat akan keislaman seseorang. Tidak akan gugur keislaman seseorang jika tidak menjalankan sholat, zakat, puasa dan haji.
Namun akibat pernyataan itu, KH Ahmad Rifa’i banyak mendapat pertentangan khususnya dari sejumlah ulama saat itu. Bahkan hingga Indonesia merdeka, ajaran KH Ahmad Rifa’i yang menyatakan rukun Islam hanya satu masih menjadi perdebatan. Bahkan, beberapa kali terjadi insiden terhadap penganut ajaran Tarekat Rifa’iyah seperti di Desa Meduri Pekalongan 1965, Demak 1982 dan Paesan Pekalongan tahun 1960. Akibat peristiwa itu, muncul surat keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah nomor 012 tahun 1982 yang berisi larangan terhadap pengikut islam Alim Adil dan penggunaan buku Riayatul Muhimmah karena dianggap menyesatkan. [13]
Pandangan KH Ahmad Rifai yang kontroversi kedua adalah tentang pemikirannya terkait keabsahan shalat Jumat. Pandangan KH Ahmad Rifa’i berbeda dengan pendapat ulama saat itu bahkan sampai saat ini, khususnya pengikut Mazhab Syafiiyah. Dalam mazhab Syafiiyah diterangkan bahwa shalat Jumat baru bisa didirikan jika memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya bilangan orang yang akan mendirikan shalat Jumat sebanyak 40 orang. Namun  pandangan KH Ahmad Rifa’i menyatakan secara khusus dalam kitabnya Nadham Taisir bahwa shalat Jumat sah didirikan dengan jumlah empat orang saja.
Tinemu ora sah Jumat Patang puluh anane
Sebab taqsir tan  pepek ilmune
Pertela sah sembahyang Jumat wong papat
Sebab sekeh ilmune wus dihimmah

Artinya;Ternyata tidak sah Jumatan dengan bilangan empat uluh orang adanya
Sebab kurang sempurna ilmunya
Jelas sah sembahyang Jumat empat orang
Sebab semua ilmunya sudah diperhatikan

Pendapat itu diambil oleh KH Ahmad Rifa’i berdasarkan pendapat Imam Syafii saat masih berada di Bagdad yang dikenal dengan qoul qadim tentang pernyataan yang membolehkan Jumatan itu empat orang atau dua belas orang. Dengan catatan, kualitas jamaah Jumatan benar-benar orang yang memahami seluk beluk shalat Jumat. Hal itu masih berlaku di kalangan penganut Rifa’iyah saat ini. Dimana sebelum dilaksanakan Jumatan, didahului dengan pemeriksaan kualitas dari jumlah minimal orang yang akan mendirikan shalat Jumat.[14]
Terkait ajaran tentang shalat Jumat, para pengikut Tarekat Rifa’iyah kerap kesulitan untuk melaksanakan shalat Jumat. Apalagi, mereka yang sudah terpisah dari Kalisalak dan menyebarkan ajaran Rifaiyah di daerah lain. Karena tidak percayanya terhadap para pemimpin umat saat ini ketika menjadi khatib atau melaksanakan shalat Jumat, banyak penganut Tarekat Rifa’iyah yang akhirnya mendirikan masjid sendiri di tempat mereka bermukim. Hal ini kemudian menimbulkan banyak masalah, banyak warga sekitar yang tidak terima dengan hal itu dan menanggap mereka adalah penganut aliran sesat. Kejadian yang terjadi misalnya di Desa Meduri Pekalongan 1965, Demak 1982 dan Paesan Pekalongan tahun 1960.
Ketiga, ajaran KH Ahmad Rifa’i yang kontroversi adalah masalah pernikahan. Sampai saat ini, ajaran tentang pernikahan KH Ahmad Rifa’i bahkan menjadi sebuah alat untuk membatasi para pengikutnya.
KH Ahmad Rifa’i dalam ajarannya tidak mengesahkan pernikahan yang dilakukan oleh penghulu. Sebab, penghulu dinilai antek Belanda dan termasuk golongan kafir. Hal itu semua dijelaskan dalam kitab Tabyin al Ishlah (tulisan khusus mengenai masalah perkawinan). Dalam kitab itu dijelaskan bahwa seorang wali harus memiliki tujuh persyaratan, salah satu diantaranya harus mursyid yakni orang yang tidak pernah berbuat fasiq. Sedangkan saksi nikah harus dua orang yang memiliki 16 syarat, dua diantaranya tidak cacat marwat (rasa memiliki kehormatan) dan tidak fasik.[15] Jika syarat dan rukun yang ditentukan itu tidak dipenuhi, maka pernikahan dianggap tidak sah dan harus mengulangi pernikahan (tajdd al-nikh).
Karena ajarannya itulah, banyak pengikutnya yang melakukan pengulangan pernikahan (tajdd al-nikh). Sampai sekarang, ajaran itu masih terjadi namun tidak semua pengikut Rifa’iyah melaksanakannya. Menurut salah satu tokoh penting Jamaah Rifa’iyah asal Desa Donorejo Kecamatan Limpung Kabupaten Batang bernama Kyai Mohammad Isrofi Mahfudz. Di kalangan jamaah Rifa’iyah Batang, Isrofi Mahfudz memiliki peran cukup penting, yakni menjabat sebagai Wakil Dewan Syuro Rifa’iyah Kabupaten Batang. Menurut Mahfudz, hal-hal yang diajarkan oleh KH Ahmad Rifa’i masih dipegang teguh dan dijalankan oleh pengikutnya sampai saat ini.[16]
Misalnya mengenai perintah untuk berjuang melawan penjajahan pemerintah Belanda, saat ini diyakini bahwa perintah itu untuk melawan pemerintahan yang dzolim. Mahfudz mengatakan, sampai sekarang perintah itu masih dilakukan dengan cara menjadi kontrol terhadap pemerintahan di negeri ini. Kalau ada yang tidak sesuai yang dilakukan pemimpin baik tingkat desa sampai Negara, maka pihaknya akan melakukan protes.
Begitupula dengan pesan-pesan Kyai Rifa’i yang lain seperti pesan untuk terus mengamalkan kitab Tarojumah yang dibuatnya juga masih dilakukan. Hingga kini, proses penyalinan kitab Tarojumah terus dilakukan sesuai perintah sang Kyai baik secara manual maupun menggunakan teknologi cetak. Selain itu, ajaran-ajaran Rifa’iyah masih terus disampaikan dan didakwahkan kepada masyarakat luas.
Konsep Alim Adil yang berlaku bagi pemimpin juga masih dipegang teguh oleh jamaah Rifa’iyah. Sampai saat ini, bagi seorang pemimpin baik pemimpin masyarakat maupun pondok pesantren, harus benar-benar orang terpilih. Bagi jamaah Rifa’iyah, untuk menjadi seorang kyai yang akan menjadi panutan umat itu mereka minimal harus menghatamkan sepuluh karya dari Kyai Rifa’I yang biasanya tentang karya-karya beliau di bidang social keagamaan, ekonomi, jual beli, simpan pinjam dan sebagainya seperti kitab Tasyrihatul Muhtaj dan kitab lainnya.

Strategi Dakwah Pada Penganut Tarekat Rifa’iyah Masa Kini
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa sebenarnya ajaran KH Ahmad Rifa’i bersumber pada mazhab Syafiiyah atau ahlussunnah wal jamaah. Namun, karena tipologi masyarakat saat itu yang masih tertinggal ditambah adanya penjajahan Belanda, maka KH Ahmad Rifa’i memberikan pengajaran yang sesuai dengan pendekatan masa itu. Penekanannya, adalah mengajarkan pengikutnya untuk membenci Belanda dan para antek-anteknya yakni kaum pribumi yang bekerja dengan Belanda.
Hal inilah yang menyebabkan ajaran KH Ahmad Rifa’i agak berbeda dengan ajaran Islam lainnya, khususnya di Indonesia. Beberapa ajarannya yang berbeda itu dinilai mengandung kontroversi, diantaranya sebagaimana telah diutarakan di atas yakni tentang jumlah rukun Islam, permasalahan shalat Ju’mat dan pernikahan.
Ironisnya, meski ajaran KH Ahmad Rifa’i ditujukan untuk melawan penjajah saat itu, ajaran-ajarannya masih berlaku sampai saat ini. Di berbagai wilayah, pengikut KH Ahmad Rifa’i masih banyak yang menjalankan ajaran-ajarannya dan mengamalkan kitab Tarojumah yang tentunya sudah kurang relevan diterapkan saat ini.[17] Meskipun di beberapa tempat, ada pula penganut ajaran Tarekat Rifa’iyah yang sudah moderat. Mereka mulai menerima pihak dari luar dan tidak ekslusif, tidak melakukan tajdid nikah dan lebih terbuka dengan penganut agama lainnya misalnya di daerah Kalipucang Wetan Batang.[18]
Namun di lokasi lain khususnya di daerah asal Tarekat ini berdiri Kalisalak batang, ajaran Tarekat Rifa’iyah masih dipegang teguh penganutnya. Disinilah perlu dilakuukan strategi dakwah yang dapat dilaksanakan bagi masyarakat pegikut ajaran Rifa’iyah yang masih memegang teguh ajaran gurunya itu.
Meski semua ajaran Rifa’iyah sebenarnya baik dan menganut pada ajaran kitab-kitab Salafiyah serta tidak menyimpang dari ajaran Al-Quran dan Al-Hadist, namun penerapan dan pemahaman para penganutnya banyak yang masih keliru dan tidak tepat jika diterapkan dalam konteks kehidupan saat ini. Yang paling mencolok terlihat pada ajarannya di bidang fiqh, yakni tentang pelaksanaan shalat Jumat dan pernikahan.
Disinilah peran penting para dai untuk melaksanakan tugasnya. Proses dakwah penting dilaksanakan untuk meluruskan pemahaman penganut ajaran Tarekat Rifa’iyah dari pemahaman yang kurang relevan tersebut. Selain itu, proses dakwah penting dilakukan agar sifat ekslusifitas kelompok Tarekat Rifa’iyah dapat terurai.
Dakwah merupakan aktifitas untuk mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.[19] Unsur-unsurnya meliputi da’i, mad’u, materi, metode dan media. Sementara pendekatan yang harus digunakan untuk melakukan dakwah di masyarakat penganut Tarekat Rifa’iyah Kalisalak Kabupaten Batang adalah dengan pendekatan dakwah lintas budaya.
Dakwah lintas budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai. Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda.[20]
Terkait strategi dakwah pada masyarakat penganut Tarekat Rifaiyah, maka lima unsur-unsur dakwah haruslah dibahas dengan baik dan tepat agar dakwah yang dilakukan dapat diterima. Pertama Da’i atau subjek dakwah, menurut penulis da’i yang tepat untuk terjun ke penganut Rifaiyah adalah para ulama penganut fiqh yang mumpuni dan paham fiqh secara mendalam dan juga paham tentang sejarah pergerakan KH Ahmad Rifa’i. Ulama-ulama ahli Fiqh tersebut dapat memberikan pengetahuan tentang fiqh yang sebenarnya kepada para pengikut Tarekat Rifaiyah. Selain itu, ulama-ulama ahli fiqh tersebut juga dapat menerangkan bahwa ajaran Rifaiyah adalah untuk menentang Kolonial Belanda, yang sudah tidak relevan jika dilakukan pada masa sekarang.
Mad’u atau objek dakwah adalah masyarakat penganut aliran Rifaiyah khususnya yang masih memegang teguh ajaran-ajaran KH Ahmad Rifa’i. Sasaran utama adalah para pemimpin Tarekat Rifa’iyah. Mereka adalah sasaran utama dakwah karena jika para pemimpinnya sadar, maka akan lebih mudah menyadarkan para pengikutnya. Setelah para pemimpinnya, para pengikut baik yang tua maupun yang muda juga harus mendapat perhatian serius.
Materi dakwah yang dapat digunakan kepada masyarakat penangut aliran Rifaiyah adalah tentang akidah, tasawuf dan khususnya fiqh. Sebab, materi-materi tersebut yang selama ini menjadi permasalahan dan seringnya muncul pentakfiran dari penganut ajaran lain di berbagai daerah terhadap aliran Rifa’iyah, karena memang aliran agamanya kurang relevan digunakan saat ini.
Sementara metode yang dapat dilakukan adalah metode struktural yakni pendekatan dengan para pemimpin Tarekat Rifa’iyah. Selain itu, metode yang dapat digunakan adalah dengan menggelar pengajian rutin atau bahtsul masail seperti yang selama ini dilakukan penganut ajaran Tarekat Rifaiyah. Sampai sekarang para penganut Rifaiyah masih rutin menggelar pengajian bandongan atau mengaji kitab bersama di lokasi-lokasi tertentu, biasanya di masjid-masjid yang mereka dirikan. Dengan metode tersebut, dapat dijelaskan ajaran tentang akidah, tasawuf serta fiqh yang sebenarnya kepada penganut Rifaiyah.
Selain metode itu, di kalangan Rifaiyah khususnya yang ada di Kalisalak Batang sudah berdiri sekolah-sekolah dan pondok pesantren khusus Rifaiyah. Sekolah-sekolah itu selain mengajarkan ilmu sosial juga mengajarkan kitab-kitab Tarojumah. Strategi dakwah yang dapat dilakukan adalah dengan masuk ke dalam sekolah tersebut untuk mengajarkan kitab-kitab lain kepada siswa agar mereka dapat menerima adanya pandangan lain selain yang mereka pelajari.
Hasil akhir yang harus tercapai dalam proses dakwah tersebut adalah menyadarkan masyarakat Rifaiyah bahwa ajaran-ajaran yang mereka anut sudah tidak relevan lagi dilakukan saat ini. Mereka harus menerima perubahan dan mau berbaur dengan masyarakat luar serta tidak ekslusif. Sebab sampai saat ini, penganut aliran Rifa’iyah masih bersifat tertutup dari lingkungan luar.[21]
Terkait pelaksanaan Shalat Jumat misalnya, para penangut ajaran Rifaiyah sebisa mungkin dapat menerima adanya pandangan lain mengenai mekanisme dan syarat rukun shalat Jumat. Mereka juga diharapkan menerima penganut aliran kepercayaan lain yang ada di masyarakat. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Quran Al-Baqarah ayat 213 yang artinya; Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Sementara mengenai pernikahan, diharapkan dengan proses dakwah maka masyarakat Rifaiyah dapat menerima keberadaan penghulu. Bagaimanapun, penghulu merupakan aparat pemerintahan yang ditugaskan untuk mengurusi urusan pernikahan. Masyarakat Rifaiyah diharapkan tidak membenci pemerintah karena saat ini sudah bukan zaman penjajahan Belanda. Masyarakat Rifaiyah justru harus menghormati dan menaati pemerintah sesuai dengan ayat Al-Quran surat An-Nisa ayat 59; Artinya; Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kesimpulan
            Dari pemaparan di atas kita mengetahui bahwa sebenarnya ada banyak aliran Tarekat di Indonesia. Salah satu tarekat yang masih eksis sampai saat ini adalah Tarekat Rifa’iyah, tarekat yang didirikan oleh KH Ahmad Rifa’i di Kalisalak Batang Jawa Tengah. Tarekat ini berdiri sebagai bentuk perlawanan KH Ahmad Rifai terhadap penjajahan kolonial Belanda saat itu. Untuk itu, ajaran-ajaran yang dilakukan sangat terlihat bagaimana menanamkan kebencian terhadap pemerintah Belanda dan para anteknya, dalam hal ini pribumi yang bekerja kepada Belanda.
            Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ajaran-ajaran Rifaiyah, karena ajarannya juga bersumber pada Imam Syafii dan Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, karena konteks dahulu untuk melawan pemerintah kolonial Belanda, ada berbagai ajaran yang sedikit berbeda dengan masyarakat pada umumnya, diantaranya tentang rukun Islam, pelaksanaan Shalat Jumat dan Pelaksanaan Pernikahan.
            Strategi dakwah yang dapat dilakukan untuk masyarakat penganut aliran Rifaiyah adalah dengan cara menyadarkan kepada mereka bahwa ajaran-ajaran yang mereka anut kurang tepat jika dilakukan pada masa sekarang. Hal itu tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan membutuhkan orang atau dai yang tepat agar dakwahnya dapat diterima di kalangan masyarakat penangut Rifaiyah. Mereka diharapkan dapat menerima perubahan dan menyadari bahwa ada banyak pandangan ilmu dan aliran agama yang harus dihormati serta mau berbaur dengan kehidupan masyarakat sekitarnya.
            Adapun strategi dakwah yang dapat digunakan untuk masyarakat penganut Tarekat Rifa’iyah adalah dengan model pendekatan dakwah lintas budaya. Dakwah lintas budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai.
Aplikasinya, strategi dakwah pada masyarakat penganut Tarekat Rifaiyah, maka lima unsur-unsur dakwah haruslah dibahas dengan baik dan tepat agar dakwah yang dilakukan dapat diterima. Pertama Da’i atau subjek dakwah, menurut penulis da’i yang tepat untuk terjun ke penganut Rifaiyah adalah para ulama penganut fiqh yang mumpuni dan paham fiqh secara mendalam dan juga paham tentang sejarah pergerakan KH Ahmad Rifa’i. Ulama-ulama ahli Fiqh tersebut dapat memberikan pengetahuan tentang fiqh yang sebenarnya kepada para pengikut Tarekat Rifaiyah. Selain itu, ulama-ulama ahli fiqh tersebut juga dapat menerangkan bahwa ajaran Rifaiyah adalah untuk menentang Kolonial Belanda, yang sudah tidak relevan jika dilakukan pada masa sekarang.
Mad’u atau objek dakwah adalah masyarakat penganut aliran Rifaiyah khususnya yang masih memegang teguh ajaran-ajaran KH Ahmad Rifa’i. Sasaran utama adalah para pemimpin Tarekat Rifa’iyah. Mereka adalah sasaran utama dakwah karena jika para pemimpinnya sadar, maka akan lebih mudah menyadarkan para pengikutnya. Setelah para pemimpinnya, para pengikut baik yang tua maupun yang muda juga harus mendapat perhatian serius.
Materi dakwah, materi dakwah yang dapat digunakan kepada masyarakat penangut aliran Rifaiyah adalah tentang akidah, tasawuf dan khususnya fiqh. Sebab, materi-materi tersebut yang selama ini menjadi permasalahan dan seringnya muncul pentakfiran dari penganut ajaran lain di berbagai daerah terhadap aliran Rifa’iyah, karena memang aliran agamanya kurang relevan digunakan saat ini.
Metode dakwah, metode yang dapat dilakukan adalah metode struktural yakni pendekatan dengan para pemimpin Tarekat Rifa’iyah. Selain itu, metode yang dapat digunakan adalah dengan menggelar pengajian rutin atau bahtsul masail seperti yang selama ini dilakukan penganut ajaran Tarekat Rifaiyah. Sampai sekarang para penganut Rifaiyah masih rutin menggelar pengajian bandongan atau mengaji kitab bersama di lokasi-lokasi tertentu, biasanya di masjid-masjid yang mereka dirikan. Dengan metode tersebut, dapat dijelaskan ajaran tentang akidah, tasawuf serta fiqh yang sebenarnya kepada penganut Rifaiyah.
Selain metode itu, di kalangan Rifaiyah khususnya yang ada di Kalisalak Batang sudah berdiri sekolah-sekolah dan pondok pesantren khusus Rifaiyah. Sekolah-sekolah itu selain mengajarkan ilmu sosial juga mengajarkan kitab-kitab Tarojumah. Strategi dakwah yang dapat dilakukan adalah dengan masuk ke dalam sekolah tersebut untuk mengajarkan kitab-kitab lain kepada siswa agar mereka dapat menerima adanya pandangan lain selain yang mereka pelajari.



Daftar pustaka
Amin, Ahmad Syadzirin. Mengenal Ajaran Tarajumah Shaikh H. Ahmad Rifa‟i, Pekalongan: Yayasan al-Insaf. 1999.
Djamil, Abdul. Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i Kalisalak. Semarang:LKIS.2001.
Karyanto, Pergeseran Tradisi Berfiqh Jamaah Rifa’iyah, artikel yang didownload pada Portal Garuda dengan alamat http://download.portalgaruda.org.
Khamdi, Muhammad, Gerakan Dakwah Rifaiyah. Jurnal Dakwah Vol X Nomor 2 Juli-Desember 2009.
Narsudin, Muhammad, Hukum Islam Dan Perubahan Sosial:Studi Pergeseran Pemikiran Jam’iyah Rifa’iyah tentang Keabsahan Nikah yang Diakadkan oleh Penghulu/PPN, diunduh dari http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/87/jtptiain-gdl-muhamadnas-4338-1-skripsi-p.pdf pada Minggu (19/3/2017).
Syamsul, Munir.Ilmu Dakwah.Jakarta;Amzah. 2009.
Syarifah, Masykurotus. Budaya dan Kearifan Dakwah. Jurnal Al-Balagh Vol.1, No. 1, Januari–Juni 2016.
Sudrajat, Ajat. KH Ahmad Rifa’i dari Kalisalak Pekalongan dan Gerakan Protes Sosial Abad 19. Artikel yang diunduh dari http.staff.uny.ac.id Juni 2017.
Wawancara dengan Isrofi Mahfudz, Wakil Dewan Syuro Rifa’iyah Kabupaten Batang pada Januari 2017.
Wawancara dengan Abdul Djamil, penulis buku Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i Kalisalak pada Januari 2017.
Wawancara dengan Ida Widyastuti, warga sekitar penganut aliran Rifaiyah Kalisalak Batang, Maret 2017.


[1] Sartono Kartodirjdo, Pemberontakan Petani Banten 1988. Jakarta;Pustaka Jaya.1998. h.207.
[2] Abdul Djamil. Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i Kalisalak. Semarang:LKIS.2001.h.13.
[3] Ajat Sudrajat, KH Ahmad Rifa’i dari Kalisalak Pekalongan dan Gerakan Protes Sosial Abad 19. Artikel yang diunduh dari http.staff.uny.ac.id Juni 2017.
[4] Ibid.h.179.
[5] Ajat Sudrajat, KH Ahmad Rifa’i...h.3.
[6] Muhammad Narsudin, Hukum Islam Dan Perubahan Sosial:Studi Pergeseran Pemikiran Jam’iyah Rifa’iyah tentang Keabsahan Nikah yang Diakadkan oleh Penghulu/PPN, diunduh dari http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/87/jtptiain-gdl-muhamadnas-4338-1-skripsi-p.pdf pada Minggu (19/3/2017).
[7] Ibid.h.237.
[8] Ahmad Syadzirin Amin, Mengenal Ajaran Tarajumah Shaikh H. Ahmad Rifa‟i,. Pekalongan: Yayasan al-Insaf, 1999. h. 9-10
[9] Abdul Djamil, Perlawanan... h.25-33.
[10] Pernyataan ini seringkali ditemukan dalam kitab-kitabnya yang membahas tentang ilmu Fiqh dan Tasawuf antara lain Ri'ayah al-Himmah, Abyan al Hawa'ij dan Asnal Migsad khusus membahas tentang ilmu Ushuluddin.
[11] Muhammad Khamdi, Gerakan Dakwah Rifa’iyah. Jurnal Dakwah Vol X nomor 2, Juli-Desember 2009.
[12] Ibid. h.58.
[13] Ibid.h.60.
[14]Karyanto, Pergeseran Tradisi Berfiqh Jamaah Rifa’iyah, artikel yang didownload di http://download.portalgaruda.org.
[15] Abdul Jamil, Perlawanan...h.92.
[16] Wawancara dengan Isrofi Mahfudz, Wakil Dewan Syuro Rifa’iyah Kabupaten Batang pada Januari 2017.
[17] Wawancara dengan Abdul Djamil, penulis buku Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i Kalisalak pada Januari 2017.
[18] Muhammad Khamdi, Gerakan Dakwah Rifaiyah. Jurnal Dakwah Vol X Nomor 2 Juli-Desember 2009.
[19] Munir Syamsul. Ilmu Dakwah. Jakarta;Amzah. 2009. h.xviii.
[20] Masykurotus Syarifah. Budaya dan Kearifan Dakwah. Jurnal Al-Balagh Vol.1, No. 1, Januari–Juni 2016.

[21] Wawancara dengan Ida Widyastuti, warga sekitar penganut aliran Rifaiyah Kalisalak Batang, Maret 2017.